-
Tabrakan kereta cepat di Spanyol menewaskan 68 orang akibat kesalahan pengawasan sistem kontrol otomatis.
-
Pemerintah menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari di tengah investigasi kelalaian lalu lintas kereta.
-
Insiden maut ini merupakan bencana perkeretaapian kedua yang menghantam Spanyol dalam kurun waktu satu tahun.
Suara.com - Kegagalan sistem kontrol otomatis memicu benturan dahsyat antara kereta cepat Renfe dan armada Iryo hingga merenggut 68 nyawa di wilayah Castilla-La Mancha. Insiden maut pada Rabu pagi tersebut memaksa Spanyol menetapkan hari berkabung nasional selama tiga hari berturut-turut.
Pemerintah Spanyol menaruh perhatian serius terhadap keteledoran manajemen pusat kendali yang mengizinkan armada tetap melaju di tengah gangguan teknis. Penyelidikan intensif kini mengarah pada alasan operasional yang membiarkan kereta bergerak hingga memicu tabrakan fatal dari belakang.
Proses evakuasi korban yang tertimbun reruntuhan besi gerbong terus berjalan secara maraton sepanjang malam. Petugas gabungan mengerahkan alat berat guna memindahkan bongkahan material tajam di lintasan penghubung Madrid dan Seville.
Pusat kendali perjalanan diduga mengabaikan prosedur keselamatan vital saat gangguan sinyal otomatis sepanjang 69 kilometer terdeteksi. Kereta armada Renfe terus diarahkan meluncur sejauh 25 kilometer hingga akhirnya menabrak rangkaian kereta Iryo yang sedang berhenti.
Dikutip dari AP, Menteri Transportasi Oscar Puente mengonfirmasi adanya kejanggalan keputusan petugas operasional saat gangguan rel berlangsung. Puente menegaskan pemberhentian lalulintas dilakukan dalam situasi yang, dari sudut pandang kami, tidak dapat dijelaskan.
Ia menyayangkan tidak adanya tindakan pencegahan yang diambil sebelum tabrakan terjadi. Menurutnya, pusat kendali "memiliki lebih dari cukup waktu untuk memverifikasi kesalahan tersebut, dan mereka tidak memperbaikinya."
Para penumpang yang selamat menceritakan detik-detik mencekam saat impak benturan menghantam gerbong mereka. Josimar Medina, wisatawan asal Peru berusia 31 tahun yang sedang tertidur bersama kekasihnya, terkejut saat benturan melempar tubuhnya.
"Aku terbangun dan aku berada di udara," kata Medina.
Penumpang lain bernama Pablo Mejia terhindar dari maut setelah berpindah tempat duduk beberapa saat sebelum benturan keras terjadi. Pria berusia 42 tahun itu selamat meski menderita luka di bagian kepala.
Dengan pakaian bernoda darah, Mejia menggambarkan kepanikan luar biasa di dalam gerbong.
"Pukulan yang sangat kuat ... banyak orang di lantai, saling bertumpukan, kursi-kursi terlepas, koper-koper, banyak kekacauan."
Atas keselamatan dirinya dari musibah dahsyat tersebut, ia menyampaikan rasa syukurnya.
"Saya pikir saya telah terlahir kembali," ungkapnya.
Otoritas setempat menyulap sebuah bangunan sekolah di Desa Urda menjadi posko penanganan penanganan krisis bagi keluarga korban. Lokasi yang berjarak 130 kilometer di selatan Madrid ini dipadati warga yang menunggu kabar anggota keluarga mereka.
Relawan Palang Merah dikerahkan secara masif untuk mendampingi kerabat korban yang tiba dalam kondisi histeris dan trauma. Pendampingan psikologis diberikan secara khusus mengingat besarnya tingkat guncangan emosional yang dialami para keluarga.
Psikolog Palang Merah Carmen Garcia mengindikasikan bahwa proses pendampingan mental akan memakan waktu cukup panjang.
"Setiap orang akan menghadapinya dengan cara mereka sendiri," kata Garcia.
Ia menambahkan kondisi emosional warga di lokasi penampungan sangat beragam.
"Kami memiliki orang-orang yang syok, yang belum menerima apa yang terjadi, orang-orang marah, sedih, dan cemas. Masa berduka ini akan menjadi rumit," lanjut Garcia.
Guna mempercepat proses identifikasi jenazah, kepolisian Garda Sipil membuka empat kantor identifikasi khusus. Fasilitas sampel DNA dipusatkan di Kota Madrid, Toledo, Cordoba, dan Seville.
Aksi kemanusiaan juga marak dilakukan masyarakat dengan mendatangi titik-titik donor darah di Madrid serta Castilla-La Mancha. Dukungan moral terus mengalir dari berbagai lapisan masyarakat untuk menguatkan para penyintas.
Pastor paroki Desa Urda, Jose Miguel Fernandez, turut hadir memberikan dukungan spiritual kepada keluarga yang berkumpul di posko krisis. Ia menekankan pentingnya kehadiran fisik untuk meredakan kepedihan para korban.
Fernandez menyampaikan pendekatan emosional yang diperlukannya saat ini.
"Yang paling penting adalah berada bersama kerabat korban, agar mereka merasakan kedekatan, karena kata-kata di saat seperti ini tidak ada gunanya, tetapi pelukan sangat membantu," tutur Fernandez.
Ia juga menceritakan pemandangan memilukan saat dirinya tiba di lokasi pemandangan tak lama setelah insiden terjadi. Fernandez mengenang, tempat itu dipenuhi "gambaran kehancuran, keputusasaan, ketidakpastian, kematian."
Kecelakaan tragis ini menjadi bencana kereta api kedua yang melanda jaringan transportasi cepat Spanyol dalam setahun terakhir. Pada Januari lalu, tabrakan serupa di Andalusia merenggut 46 nyawa akibat gerbong anjlok yang berpindah ke jalur berlawanan.
Rentetan musibah ini memicu gelombang kritik tajam terhadap keandalan sistem keamanan kereta api di bawah kepemimpinan pemerintah sayap kiri. Isu keselamatan publik kini menjadi sorotan utama di tengah persiapan jelang pemilu dipercepat pada 29 November mendatang.