- Banjir rob di Muara Angke, Jakarta Utara, pada Jumat, 30 Oktober 2026, menghambat aktivitas ekonomi warga nelayan kerang hijau.
- Genangan air memaksa warga menunggu air surut dan memikul atau mendorong hasil panen karena akses jalan terganggu.
- Dampak banjir tersebut membuat waktu kerja warga bertambah lama dari jadwal normal tanpa menyebabkan kerugian pendapatan finansial.
Suara.com - Banjir rob yang menggenangi kawasan RT 06 RW 022, Muara Angke, Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, turut menghambat aktivitas ekonomi warga.
Genangan air mengganggu proses pengolahan kerang hijau, mulai dari aktivitas perebusan hingga pengangkutan kerang menuju tempat pengolahan.
Ketua RT 06 RW 022 Muara Angke, Warya, mengatakan mayoritas warga di wilayah tersebut bekerja sebagai nelayan kerang hijau.
Dalam aktivitasnya, terdapat sejumlah tahapan pengolahan yang harus dilakukan, mulai dari perebusan hingga pengupasan kerang.
"Di sini mayoritas nelayan kerang hijau nih, nah itu kan untuk nelayan kerang hijau itu kan banyak prosesnya tuh, dari mulai apa, perebusan, pengupasan," kata Warya kepada Suara.com saat ditemui di wilayah RT 06, Jakarta Utara, Jumaat (30/10/2026).
Namun, genangan banjir rob membuat aktivitas di tempat perebusan kerang tidak bisa langsung dilakukan.
Warga harus menunggu air surut terlebih dahulu sebelum kembali menjalankan proses pengolahan.
"Nah, itu ketika tempat perebusannya itu mengalami banjir atau tergenang banjir, otomatis kan waktunya kan diundur tuh kan, nunggu surut dulu baru bisa beraktivitas," ujarnya.
Selain menghambat proses perebusan, banjir rob juga menyulitkan warga mengangkut kerang menuju tempat pengolahan.
Akses jalan yang tergenang membuat kendaraan seperti gerobak, mobil, maupun sepeda motor tidak bisa masuk seperti biasanya.
"Nah, terus untuk pengirimannya juga, yang seharusnya ada gerobak, ada mobil atau motor ke sini bisa masuk, ini aksesnya karena banjir akhirnya di, didorong-dorong atau dipikul, gitu," tutur Warya.
Kondisi tersebut membuat proses pengolahan kerang membutuhkan waktu lebih lama.
Warya mengatakan, aktivitas perebusan yang biasanya dapat dimulai sekitar pukul 11.00 atau 12.00 WIB siang harus mundur hingga pukul 14.00 atau 15.00 WIB sore karena genangan banjir.
"Memakan waktu. Jadi yang seharusnya misalnya merebus kerang itu di jam 11.00 jam 12.00 itu bisa nyampe jam 15.00 atau jam 14.00 sore di situ," kata Warya.
Warya menjelaskan, dampak yang dirasakan warga bukan berupa kerugian pendapatan, melainkan bertambahnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Aktivitas yang biasanya selesai sekitar pukul 17.00 WIB bisa melewati waktu istirahat.
"Ya, kalau kerugian ekonomi sih enggak, cuma apa, kerugian di waktu di situ, yang seharusnya jam 17.00 sore sudah selesai, sudah waktunya istirahat, mandi istirahat, ini masih melakukan aktivitas di situ," pungkasnya. (Reporter : Agustin Dwi Anggraini)