- Hubungan Indonesia dan Singapura menghadapi ketegangan bilateral terkait pasokan gas alam, perdagangan, serta rencana ekspor listrik.
- Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengunjungi Jakarta untuk melakukan pembicaraan diplomatik guna meredakan ketegangan tersebut.
- Ketegangan ini dikhawatirkan dapat mengganggu pelaksanaan 26 inisiatif kerja sama strategis yang telah disepakati kedua negara.
Suara.com - Hubungan Indonesia dan Singapura kembali menghadapi ketegangan akibat sejumlah persoalan bilateral, mulai dari pasokan gas alam, kabut asap lintas batas, hingga perdagangan komoditas.
Situasi ini mencuat menjelang peringatan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2027.
Ketegangan meningkat setelah Indonesia mengurangi ekspor gas alam ke Singapura.
Selain itu, muncul ketidakpastian mengenai rencana ekspor listrik serta tudingan terkait perdagangan komoditas yang turut memperkeruh hubungan kedua negara.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Suryopratomo, menilai hubungan kedua negara yang telah terjalin hampir enam dekade kini sedang diuji.
![Singapura Gandeng Indonesia, Hilirisasi Timah Dibidik Masuk Industri Elektronik Global [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/11/34508-indonesia-singapura.jpg)
Menurutnya, pernyataan terbuka yang disampaikan tanpa komunikasi terlebih dahulu berpotensi memicu kesalahpahaman.
Padahal, Indonesia dan Singapura memiliki kepentingan ekonomi yang saling berkaitan.
Karena itu, komunikasi diplomatik dinilai penting untuk mencegah perbedaan kepentingan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Sejumlah Kesepakatan Kerja Sama Terancam Terganggu
Suryopratomo mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong sebelumnya telah menyepakati pelaksanaan 26 inisiatif kerja sama.
Kesepakatan tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari investasi, pertahanan, energi, hingga ekonomi digital.
Ketegangan yang tidak dikelola dengan baik dikhawatirkan dapat menghambat pelaksanaan berbagai agenda tersebut.
Peringatan serupa disampaikan dosen Universitas Brawijaya, Aswin Ariyanto Azis.
Ia menilai retorika yang bernada permusuhan dapat merusak kepercayaan investor sekaligus mengganggu hubungan diplomatik kedua negara.
Menurut Aswin, pengurangan ekspor gas Indonesia lebih berkaitan dengan upaya pemerintah mengutamakan kebutuhan energi dalam negeri.
Dengan demikian, kebijakan tersebut tidak serta-merta dapat dianggap sebagai tindakan balasan terhadap Singapura.
Indonesia dan Singapura Saling Membutuhkan
Di sisi lain, peneliti Universitas Teknologi Nanyang, Virdika Rizky Utama seperti dikutip dari Sinar Harian, mengingatkan bahwa Indonesia juga masih memiliki ketergantungan terhadap Singapura di sejumlah sektor penting.
Salah satunya adalah pasokan produk minyak bumi hasil pengolahan atau bahan bakar minyak (BBM) olahan.
Kondisi tersebut menunjukkan hubungan kedua negara tidak hanya diwarnai persaingan kepentingan, tetapi juga saling ketergantungan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan telah mengunjungi Jakarta untuk meredakan ketegangan melalui pembicaraan diplomatik.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga komunikasi antara kedua negara di tengah munculnya sejumlah persoalan bilateral.
Para pengamat mengingatkan, perselisihan yang terus berlarut-larut berisiko mengganggu kerja sama regional.
Indonesia dan Singapura pun dinilai perlu mengedepankan dialog serta mengelola perbedaan secara hati-hati agar hubungan yang telah dibangun selama puluhan tahun tidak ikut terdampak.