- Swarna Dwipa Institute menggelar Dialog Nasional di Jakarta pada 31 Oktober 2026 untuk membahas tantangan menuju Indonesia Emas.
- Frans Magnis-Suseno menyatakan bahwa pemberantasan korupsi dan keadilan sosial sangat menentukan keberhasilan masa depan pembangunan bangsa Indonesia.
- Warsito Ellwein dan Febby Lintang menekankan perlunya pemerataan kesejahteraan, pendidikan inklusif, serta perlindungan bagi kelompok masyarakat rentan.
Suara.com - Swarna Dwipa Institute (SDI) menilai pemberantasan korupsi dan pemerataan kesejahteraan menjadi pekerjaan penting Indonesia dalam menyongsong 2045.
Cita-cita Indonesia Emas dinilai akan sulit terwujud jika pembangunan hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan sosial.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Dialog Nasional bertajuk “Menuju 1 Abad Sumpah Pemuda – Pemikiran, Semangat dan Implementasi Menuju Indonesia Emas” yang digelar di Gedung Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Forum yang menghadirkan akademisi, tokoh masyarakat, dan unsur penyelenggara negara itu membahas makna Sumpah Pemuda dalam menghadapi tantangan bangsa.
Salah satu pesan yang mengemuka ialah pembangunan harus dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya tercermin dalam angka pertumbuhan ekonomi.
Akademisi Frans Magnis-Suseno menegaskan bahwa persatuan Indonesia perlu diwujudkan melalui keadilan sosial sebagaimana terkandung dalam sila kelima Pancasila.
Menurutnya, pembangunan kehilangan makna apabila kesejahteraan belum dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
![Swarna Dwipa Institute (SDI) mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/11/01/93039-swarna-dwipa-institute.jpg)
Magnis-Suseno juga mengingatkan bahwa korupsi dapat merusak kepercayaan publik dan menghambat masa depan bangsa.
Ia mendorong lembaga perwakilan rakyat menjalankan fungsi pengawasan serta memperjuangkan kepentingan masyarakat, khususnya petani, nelayan, buruh, dan kelompok kurang mampu.
“Tentu kita masih punya harapan. Tetapi itu akan bergantung menurut saya apakah Indonesia berhasil mengatasi situasi korupsi,” ujarnya.
Pembangunan harus dinikmati seluruh rakyat
Warsito Ellwein dari Agenda 45 menilai nasionalisme harus berangkat dari penghargaan dan perlindungan terhadap manusia Indonesia.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari siapa yang menikmati hasilnya.
Warsito menyebut kesejahteraan bersama, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan sebagai tiga fokus penting bagi masa depan Indonesia.
Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan latar belakang dan pemikiran masyarakat perlu diarahkan pada tujuan kebangsaan bersama.