- Ahrie Sonta dan Eko Hadi ditahan terkait kasus penyadapan presiden.
- Irjen Ahrie Sonta merupakan jenderal termuda sekaligus mantan ajudan presiden.
- Irjen Eko Hadi berprestasi dalam membongkar jaringan narkoba kelas kakap.
Suara.com - Pengungkapan kasus dugaan penyadapan ilegal (illegal tapping) terhadap Presiden RI Prabowo Subianto terus memicu guncangan besar di tubuh korps Bhayangkara.
Tak hanya menyeret mantan Kapolri sekaligus Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn.) Listyo Sigit Prabowo, Bareskrim Polri juga resmi menahan dua perwira tinggi (Pati) berpangkat Inspektur Jenderal (Irjen) dala kasua penyadapan ponsel Presiden RI Prabowo Subianto.
Keduanya adalah Irjen Pol. Ahrie Sonta Nasution yang menjabat sebagai Kepala Divisi Hukum (Kadivkum) Polri, serta Irjen Pol. Eko Hadi Santoso yang menduduki posisi Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri.
Ketiganya kini mendekam di Rutan Mabes Polri dengan jeratan pasal berlapis, mulai dari penyadapan tanpa prosedur, akses ilegal (illegal access), hingga perusakan dan penghapusan data elektronik.
Lantas, siapa sebenarnya Ahrie Sonta dan Eko Hadi Santoso? Mengapa dua jenderal dengan rekam jejak mentereng ini bisa ikut terseret dalam skandal pemantauan ilegal pimpinan negara?
Simak ulasan profil dan rekam jejak keduanya berikut ini.
1. Irjen Pol. Ahrie Sonta Nasution: Bintang Muda, Mantan Ajudan Prabowo dan Orang Dekat Listyo Sigit
![Ahrie Sonta Nasution [Instagram/ahriesonta]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/11/03/98112-ahrie-sonta-nasution-instagramahriesonta.jpg)
Nama Irjen Pol. Ahrie Sonta Nasution bukanlah sosok asing di mata publik maupun lingkaran kekuasaan.
Perwira tinggi kelahiran Bandung, 2 April 1981 ini dikenal sebagai salah satu perwira paling cemerlang dan memiliki akselerasi karier tercepat di generasinya.
Ahrie merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 2002. Ia menorehkan sejarah sebagai orang pertama di angkatannya yang sukses meraih pangkat Brigadir Jenderal (Oktober 2025) hingga Inspektur Jenderal (September 2026), sekaligus menyandang predikat jenderal bintang dua termuda di jajaran kepolisian saat dilantik.
Ia juga menyandang gelar doktor (S3) ilmu kepolisian dari PTIK pada 2018 dan pernah menempuh berbagai pelatihan bergengsi di Belanda, Jerman, hingga Singapura.
Kedekatannya dengan Listyo Sigit bermula saat ia menjadi satu-satunya perwira menengah (Pamen) yang mendampingi Listyo dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Kapolri di DPR pada Januari 2021.
Sebulan berselang, Ahrie dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Pribadi (Sekpri) Kapolri.
Di era ini, namanya kian melambung karena dinilai sebagai representasi "polisi modern".
Ahrie sangat aktif dan responsif meladeni aduan masyarakat secara langsung lewat akun media sosial X (Twitter), hingga mendapat presiasi luas dari publik dan parlemen.
Kariernya semakin bersinar saat Listyo Sigit mengumumkan penunjukan Ahrie sebagai ajudan Presiden Prabowo Subianto dari unsur Polri pada 23 Oktober 2024 setelah menyisihkan sejumlah kandidat lain.
Usai bertugas mendampingi presiden, ia sempat digeser ke Divisi Propam sebelum akhirnya ditunjuk oleh Kapolri baru, Jenderal Suyudi Ario Seto, menjadi Kadivkum Polri per 3 Oktober 2026.
Sebelum masuk ke lingkaran elite Mabes Polri, Ahrie punya rekam jejak lapangan yang mumpuni.
Ia pernah diterjunkan dalam Operasi Khusus Nemangkawi di Papua, ikut andil dalam penangkapan buronan kakap Djoko Tjandra pada 2020, hingga memimpin penanganan darurat kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 saat menjabat Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok.
2. Irjen Pol. Eko Hadi Santoso: Jenderal Pemburu Sindikat Narkoba Internasional
![Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/18/64076-eko-hadi-santoso.jpg)
Sama halnya dengan Ahrie Sonta, Irjen Pol. Eko Hadi Santoso juga merupakan perwira tinggi berprestasi dengan rekam jejak operasional yang disegani, khususnya di bidang reserse dan pemberantasan narkotika.
Eko merupakan lulusan Akpol 1999 kedua yang berhasil menembus pangkat inspektur jenderal.
Namanya mulai mencuri perhatian ketika menjabat sebagai Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok pada 2018, lalu ditarik menjadi Kabag Monev Bareskrim Polri (2020), dan dipercaya mengemban tugas di Divisi Teknologi Informasi dan Komunikasi (Div TIK) Polri pada 2022.
Kariernya melesat saat Listyo Sigit menunjuknya sebagai Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri pada Maret 2025.
Di bawah komandonya, tim Bareskrim sukses menggagalkan penyelundupan narkoba jaringan internasional dalam jumlah fantastis:
Menyita puluhan kilogram sabu asal Malaysia di Langsa, Bekasi, hingga Dumai.
Mengungkap penyelundupan 325 kilogram sabu senilai Rp585 miliar asal jaringan Thailand–Indonesia di Lhokseumawe, Aceh pada Juni 2026.
Menggerebek tempat hiburan malam ternama, HH Club Planet 3.0 di Batam, yang terafiliasi dengan jaringan bandar besar.
Atas berbagai kinerjanya, Eko dipromosikan menyandang pangkat bintang dua sebagai Penyidik Tindak Pidana Utama Bareskrim Polri pada Agustus 2026.
Namun, setelah pergantian pucuk pimpinan Polri pada Oktober 2026, ia dipindahtugaskan menjadi Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri.