- Mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama dua jenderal ditetapkan sebagai tersangka penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto pada 3 November 2026.
- Bareskrim Polri mengungkap para tersangka menyalahgunakan peladen Lawful Interception Management System untuk memantau komunikasi target tanpa prosedur hukum yang sah.
- Petugas operator sistem melaporkan tindakan penghapusan data rekaman ilegal tersebut kepada pihak berwajib pada akhir Oktober 2026.
Suara.com - Penetapan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai tersangka penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto, telah mengoyak batas paling tabu dalam tata kelola keamanan negara.
Namun, di panggung politik Indonesia yang penuh intrik, kecurigaan bahwa telinga-telinga gelap bersarang di saluran komunikasi para pemimpin bukanlah cerita baru.
Jauh sebelum peladen Lawful Interception Management System (LIMS) di Mabes Polri disalahgunakan untuk membidik gawai Prabowo sepanjang 2025–2026, paranoia pengawasan tanpa mandat pengadilan ini sudah menjadi santapan harian bagi para mantan penghuni Istana.
Dua pendahulu Prabowo—Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono—telah lama menyuarakan kegelisahan serupa.
Kelakar Pahit Megawati dan Sindrom 'James Bond'
Bagi Megawati Soekarnoputri, hidup di bawah sorotan radar pengintai bukan lagi sekadar dugaan, melainkan kepastian yang ia sikapi dengan satir.
Tanggal 28 Oktober 2024, di hadapan para kader yang meresmikan kantor sekretariat baru DPP Relawan Merah Putih di Jalan Sumatera, Gondangdia, Menteng, Ketua Umum PDI Perjuangan itu secara blak-blakan membuka rahasia mengapa tangannya tak pernah menggenggam telepon pintar.
"Saya ini tidak punya ponsel lho. Tahu enggak kenapa? Karena saya ini orang yang paling disadap di Indonesia," kata Megawati, dikutip kembali hari Rabu (4/11/2026).
Ruangan seketika bergemuruh, namun tawa itu menyimpan getir. Bagi putri Proklamator Sukarno tersebut, pengawasan komunikasi terhadap dirinya sudah berada di taraf absurd.
Alih-alih cemas berlebihan, Megawati justru mengibaratkan dirinya hidup di tengah film spionase fiksi.
"Keren toh? Kayak James Bond. Tidak percaya? Tanya sana deh ke tukang sadap," kata Megawati.
Tak jarang, rasa kesal membuatnya mengambil langkah teatrikal yang menelanjangi para penguping tak kasat mata itu.
Megawati mengaku kerap mengambil telepon rumah atau perangkat komunikasi terdekat, hanya untuk menyapa mereka yang sedang menyimak di ujung saluran.
"Kalau saya sudah mulai jengkel, saya ambil telepon 'halo... halo... sudah mulai sadapnya?" kata Megawati.
Namun, sapaan balik itu tak pernah bersambut. Saluran selalu sunyi dari jawaban.