- Warga Dusun Tangsi Jaya mengelola PLTMH mandiri sejak 2007 dan membentuk Koperasi Rimba Lestari tahun 2010.
- Koperasi Rimba Lestari memproduksi serta memasarkan Kopi Tangsi Wangi untuk membantu penjualan hasil panen petani setempat.
- Usaha pengolahan kopi dan PLTMH tersebut berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi serta meringankan beban finansial warga.
Suara.com - Gemericik air dan rindangnya alam Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat tak hanya menghadirkan ketenangan, tetapi juga mengalirkan rezeki nyata.
Lewat pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), warga setempat membuktikan bahwa menjaga kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan ekonomi.
Infrastruktur energi terbarukan yang beroperasi sejak 2007 ini sepenuhnya dikelola secara mandiri oleh masyarakat melalui Koperasi Rimba Lestari. Kini, wadah ekonomi tersebut telah menaungi lebih dari 100 anggota.
Bersama Trend Asia, jurnalis Suara.com berkesempatan menilik lebih dekat bagaimana inovasi energi hijau ini bertransformasi menjadi urat nadi perekonomian masyarakat setempat.
Ketua Koperasi Rimba Lestari, Opan Sopian, mengisahkan bahwa perjalanan mereka tidak instan. Sebelum bertransformasi menjadi koperasi, inisiatif swadaya ini mulanya hanya sebatas kelompok pengelola biasa dengan fokus tunggal: memastikan aliran listrik mandiri tetap menyala.
"Setelah tiga tahun (PLTMH berdiri) baru dijadikan koperasi. Koperasinya itu mulai dibikin 2010. 2011 itu jadi badan hukum," tutur Opan pada Selasa, (3/11/2026).

Opan mengatakan tujuh tahun setelahnya, Koperasi Rimba Lestari melebarkan sayap bisnisnya dengan merambah sebagai produsen kopi yang memanfaatkan kopi dari panen raya petani Dusun Tangsi Jaya dengan merek Kopi Tangsi Wangi.
"Jadi sekarang aset koperasi itu aset PLTMH dan olahan kopi," jelas dia.
Dengan adanya koperasi, sambung Opan, para petani kopi sekitar seakan mendapat wadah yang memudahkan untuk keperluan penjualan hasil produksinya tanpa harus melalui tengkulak.
"Untuk para petani kopi yang dulunya susah jual kopi karena hanya memproduksi kopi sedikit, misalkan 1 sampai 3 kilogram, itu kita yang tampung," ungkap Opan.
Koperasi Rimba Lestari menyediakan dua jenis varian kopi. Produknya dibanderol mulai harga Rp40 ribu per 200 gram.
Hasil olahan kopi koperasi kata Opan, kerap dipesan berbagai toko kopi moderm dari berbagai daerah. Bahkan, dia mengaku beberapa kali pernah menerima pesanan dari pembeli manca negara.
Melalui penjualan kopi saja, koperasi pernah meraup pendapatan hingga mencapai angka Rp40 juta dalam satu bulan.
"Kita pernah ada pesanan dari Dubai, Jepang, Yaman. Ada beberapa permintaan tapi kapasitas kitanya sedikit," ungkap dia.
Namun, pada tahun ini produksi olahan kopi yang dihasilkan koperasi terbilang menurun jika dibanding tahun sebelumnya akibat faktor cuaca.