Bermobil Keliling Bhutan, Nonton Pesawat Landing dan Take Off Dramatis

RR Ukirsari Manggalani
Bermobil Keliling Bhutan, Nonton Pesawat Landing dan Take Off Dramatis
National Memorial Chorten di Thimphu bagi Raja Jigme Dorjee Wangchuck (1928–1972) [Cherie (IG: never_stop_exploriiing)]

Sebelum mobil menjauh dari bandara Paro, pastikan nonton "atraksi" pesawat yang sungguh keren.

Suara.com - Seperti sudah saya duga, dalam tulisan sebelumnya saya membahas tentang Divine Madman, salah satu guru spiritual dalam kepercayaan masyarakat Bhutan yang memberikan filosofi lewat pengantara (maaf) berupa phallus alias Mr P, dan ternyata topik ini "laris". Beberapa rekan berkomentar: mengapa saya tidak membawakan oleh-oleh atau cendera mata gantungan mobil berupa benda ini?

Sebenarnya, apa yang mereka katakan itu ada benarnya. Bahwa miniatur Mr P bisa dijadikan buah tangan, tak ubahnya beberapa lembar kain tenun khas atau gelang dan kalung buatan warga setempat di Bhutan.

Namun, jangankan membelinya, masuk ke toko souvenir pun saya malu, karena kemungkinan "bertemu" Mr P. Apalagi di sepanjang perjalanan, mulai rumah-rumah warga hingga tempat peribadatan banyak dijumpai keberadaannya dalam bentuk lukisan pada dinding dekat pintu.

Padahal, sejatinya saya bisa menitipkan pembelian cendera mata khas ini kepada Rinchen, driver mobil sewa saya, atau Kindey Duba, sang pemandu perjalanan. Karena bagaimanapun, kami bertiga menjadi satu tim dalam perjalanan bermobil keliling Bhutan.

Antara satu kota dengan lainnya, terbilang cukup jauh. Seperti Paro, lokasi bandara sebagai gerbang masuk negara berjuluk Druk Yul atau Land of the Thunder Dragon itu jaraknya sekitar delapan jam dari Thimphu, ibu kota Bhutan. Bila Kindey Duba dan Rinchen tidak sabar atau kurang ramah, waduh, rasanya perjalanan bakal terasa hambar, sehingga saya ingin cepat-cepat pulang, bukan?

Beruntung keduanya sangat penolong lagi murah senyum, sehingga meskipun ke Bhutan seorang diri, saya tidak merasa terasing. Perjalanan bermobil yang lama, serta diselingi menginap di hotel transit pun tidak terasa menghabiskan waktu, karena saya dijaga oleh orang-orang terpercaya ini.

Pemandu lokal dan driver yang selalu siap buat wisatawan di Bhutan  [Cherie (IG: _never__stop__exploriiing_]
Pemandu lokal dan driver yang selalu siap buat wisatawan di Bhutan [Cherie (IG: never_stop_exploriiing)]

Beberapa keunikan soal perjalanan bermobil telah saya ungkapkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Seperti kesiapan Rinchen dalam preparasi mobil, sehingga setiap kali kami bertiga hendak bertolak ke suatu kota atau destinasi, pasti sudah rapi. Acara singgah di tempat pengisian bahan bakar pun tidak ada, karena sudah dilakukan selesai mereka mengantar saya ke hotel.

Satu lagi, meski namanya perjalanan bermobil dan berlibur, operasional wisata saya di Bhutan serasa "ngantor" saja. Yaitu, perjalanan dimulai pukul 09.00 pagi dan selalu sudah sampai di hotel atau tempat bermalam pada pukul 17.00. Benar-benar terasa 9 to 5, kan?

Hal itu disebabkan karena ketiadaan lampu penerangan di jalan-jalan luar kota Bhutan, sehingga malam hari tentunya gelap total. Juga, tidak dibolehkan melintasi jalan-jalan di lereng pegunungan di saat-saat menjelang petang. Peraturan ini tentunya menambah perasaan safe pula bagi para wisatawan yang bepergian di Bhutan.

Laman berikut adalah suguhan seru sebelum menjauh dari bandara Paro.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS