Badai Pandemi Covid-19, Bisnis Ojol Terdampak Hingga Kini

RR Ukirsari Manggalani | Achmad Fauzi
Badai Pandemi Covid-19, Bisnis Ojol Terdampak Hingga Kini
Ilustrasi Driver Ojol GrabFood [dok. Grab Indonesia]

Perusahaan transportasi asal Malaysia, Grab, mengalami dampak dari badai Covid-19 yang belum lagi reda.

Suara.com - Berbilang bulan sudah, badai Novel Coronavirus atau Covid-19 memberikan efek domino terhadap pelbagai sektor kehidupan. Termasuk industri otomotif serta turunannya. Seperti halnya bisnis ojek dalam jaringan atau lebih sering disebut sebagai ojek online (ojol).

Salah satu contohnya adalah Grab. Pendapatan perusahaan transportasi asal Malaysia yang bergerak di bidang transportasi atau pengantaran orang dan barang itu juga ikut melorot. Tan Hooi Ling, Co-Founder Grab menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan strategi menghadapi kemungkinan terburuk.

Pengemudi GrabCar tengah memasang pelindung plastik untuk mencegah dan melindungi penumpang dari virus korona, Rabu (29/4/2020).[Ayosemarang.com]
Pengemudi GrabCar tengah memasang pelindung plastik untuk mencegah dan melindungi penumpang dari Virus Corona, Rabu (29/4/2020). Sebagai ilustrasi bisnis Grab di sektor roda empat dan roda dua [Ayosemarang.com]

Dalam situasi pandemi Covid-19, Grab mengharapkan bantuan dari investor utamanya, Softbank.

"Grab yang didukung Softbank sedang mempersiapkan kemungkinan untuk "musim dingin" yang panjang," jelas Tan Hooi Ling, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (20/5/2020).

Menurutnya, imbas kebijakan pencegahan Covid-19 seperti lockdown--dengan penerapan di Indonesia disebut sebagai Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB--memukul lini jasa utama pengantaran orang. Hal itu tak sebanding dengan kenaikan lini jasa lainnya.

Kondisi ini juga berimbas kepada para driver Grab di Indonesia. Grab mengubah skema bonus atau insentif bagi mitranya. Sebagai imbasnya, 45 komunitas driver Grab Malang Raya melakukan off-bid massal atau berhenti beroperasi mulai 18 - 22 Mei 2020.

Pengemudi Grab di Malang Raya mengakui mengalami penurunan pendapatan. Hal ini terjadi sejaknya manajemen Grab mengeluarkan kebijakan untuk menurunkan insentif pada mitra karena menurunnya orderan.

Salah satu driver Grab di Kota Malang, Moch Zainul Anwar mengatakan bahwa kebijakan itu diambil manajemen Grab karena sudah mulai banyak usaha-usaha yang tutup akibat pandemi Covid-19. Sehingga muncul efek domino berupa sepinya orderan Grab.

Jay, panggilan Zainul menyatakan bahwa sebelum ada kebijakan PSBB, setiap driver jika bisa memenuhi target berlian 350 bisa mendapatkan insentif sebesar Rp155 ribu. Setelah adanya kebijakan, jumlah berlian yang dihasilkan dikalikan Rp100.

"Sangat jauh menurun. Ini memang sangat berpengaruh ke pendapatan kami," tukasnya, sembari berharap badai Covid-19 segera berakhir dan semua kembali normal seperti sediakala.


Catatan dari Redaksi: Mari bijaksana menerapkan aturan jaga jarak dengan orang lain atau physical distancing, sekitar 2 m persegi, dan tetap tinggal di rumah kecuali untuk keperluan mendesak seperti berbelanja atau berobat. Selalu gunakan masker setiap keluar rumah dan jaga kebersihan diri terutama cuci tangan rutin. Dengan pengertian saling bantu dan saling dukung, kita bisa mengatasi pandemi Corona Virus Disease atau Covid-19. Suara.com bergabung dalam aksi #MediaLawanCOVID-19. Informasi seputar Covid-19 bisa diperoleh di Hotline Kemenkes 021-5210411 atau kontak ke nomor 081-2121-23119

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS