alexametrics

Gigafactory China Siap Distribusi Tesla Model Y, Harga Tembus Rp1 M

RR Ukirsari Manggalani
Gigafactory China Siap Distribusi Tesla Model Y, Harga Tembus Rp1 M
Tesla Model Y, diabadikan di San Francisco, California, Amerika Serikat, sekitar Januari 2020 [Shutterstock].

Pabrik Tesla terbesar di luar Amerika Serikat ini sudah bisa memulai pengiriman produk baru.

Suara.com - Tesla Incorporation telah membangun Tesla Gigafactory, pabrik besar mereka di Asia, tepatnya di Shanghai, China, yang  awal tahun ini telah memproduksi Tesla Model 3. Situasi pandemi COVID-19 memperlambat kegiatan selanjutnya, namun kabar positif telah berembus. Pabrik siap memproduksi Tesla Model Y mulai awal tahun depan.

Dikutip kantor berita Antara dari pengumuman resmi manajemen Tesla China, mobil bertenaga murni listrik atau Electric Vehicle (EV) Tesla Model Y buatan China itu sudah bisa dipesan dengan harga untuk tipe terendah 488.000 yuan atau sekitar Rp1,04 miliar. Sementara perkiraan harga bagi tipe tertinggi sekitar 535.000 yuan atau kira-kira Rp1,1 miliar.

Sebagai catatan, proyek Elon Musk untuk membangun Gigafactory di Shanghai, China, merupakan sebuah langkah strategis untuk bermain di pasar mobil listrik atau EV.

Peminat kendaraan roda empat di Negeri Tirai Bambu tinggi, karena pemerintah memang mendorong penggunaan mobil berbakar energi terbarukan, khususnya tenaga listrik murni atau EV, sebagai langkah turut mengurangi polusi udara. Subsidi pun diberikan kepada para pembeli.

Baca Juga: Tesla Kembangkan Sensor Deteksi Tertinggalnya Anak di Kabin Mobil

Suasana lalu-lintas di Beijing, Ibu Kota Cina. [Shutterstock]
Suasana lalu-lintas di Beijing, Ibu Kota Cina. [Shutterstock]

Di sisi lain, untuk mendapatkan pelat nomor kendaraan bagi mobil listrik, China menerapkan sistem antri. Siapa cepat dia dapat, dan setiap tahun pemohonnya tentu saja bertambah. Saat ini, panjangnya antrian bisa mencapai lima tahun atau lebih.

Meski terasa ribet dengan penantian menanti pelat nomor kendaraan mobil listrik, peminat tetap bertahan. Beberapa alasan antara lain : antrian calon pembeli mobil listrik tidak sepanjang calon pembeli mobil konvensional yang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Dan otoritas Kota Beijing hanya mengeluarkan satu nomor kendaraan BBM yang diundi dari setiap 3.000 calon pembeli mobil.

Itulah beberapa alasan yang membuat peminat mobil bertenaga listrik tetap tumbuh di China. Selain Tesla, beberapa perusahaan lokal, seperti Niu dan BYD turut meramaikan kompetisi pasar mobil listrik Negara Tirai Bambu.

Komentar