alexametrics

Beda Pengukuran, Mobil Kategori PHEV Disebut Mobil Listrik Artifisial

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Beda Pengukuran, Mobil Kategori PHEV Disebut Mobil Listrik Artifisial
Logo PHEV, sebagai ilustrasi [T&E].

Karena perbedaan aturan pengukuran emisi gas buang, hasil jadi berbeda. Namun tetap dalam kondisi fleksibel.

Suara.com - Lembaga kampanye independen Eropa, Transport & Environment (T&E) menerbitkan penelitian baru yang menunjukkan bahwa kendaraan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) rupanya memproduksi karbon dioksida lebih banyak dari yang dipaparkan.

Konsepnya, mobil hybrid menggabungkan motor listrik dengan mesin pembakaran internal, biasanya berupa unit bensin, dan disebutkan memiliki kemampuan mengurangi emisi.

Nah, saat pengujian, mobil jenis PHEV kerap mendapatkan hasil yang baik. Ketika group itu dites lebih jauh, model-model seperti BMW X5, Volvo XC60, dan Mitsubishi Outlander memberikan catatan emisi yang lebih tinggi daripada yang iklan atau pariwaranya. T&E mengatakan ketiganya mengeluarkan karbon dioksida sebanyak 28-89 persen lebih banyak dibandingkan keterangan perusahaan.

Salah satu alasannya, mengapa terjadi demikian, kebanyakan PHEV memiliki mode pengisian baterai yang memungkinkan pengemudi menggunakan mesin konvensional terlebih dahulu untuk mengisi baterai selagi mengemudi.

Baca Juga: Rest Area Tol Cipali Akan Dilengkapi Stasiun Pengisian Mobil Listrik

Ilustrasi mobil listrik (Shutterstock).
Ilustrasi mobil listrik secara umum (Shutterstock).

"Plug-in Hybrid adalah mobil listrik artifisial, yang dibuat untuk uji laboratorium dan keringanan pajak. Bukan utnuk konsumsi mengemudi betulan," ungkap Julia Poliscanova, Direktur Senior T&E, dikutip dari Express and Star.

Ia menambahkan, pengujian di pihaknya menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi optimal, dengan baterai penuh, mobil justru lebih banyak mencemari lingkungan.

"Kecuali jika dikemudikan dalam kecepatan rendah, emisi karbon bisa keluar dari grafik. Pemerintah harus berhenti mensubsidi mobil ini dengan miliaran uang dari pajak masyarakat," tegasnya.

Sementara Mike Hawes, kepala eksekutif dari Society of Motor Manufacturers and Traders, yang mewakili industri otomotif Britania Raya menyatakan bahwa akan selalu ada perbedaan antara tes laboratorium dan penggunaan di dunia nyata.

Namun tes WLTP (World Harmonized Light-duty Vehicles Test Procedure) dan RDE (Real-Driving Emissions) yang diatur secara internasional membuktikan bahwa steker dalam sistem hybrid memberikan pengurangan emisi yang substansial dibandingkan bensin murni atau setara diesel.

Baca Juga: Mitsubishi Outlander PHEV Jadi Sumber Listrik untuk Pengungsi Gunung Merapi

"PHEV memberikan fleksibilitas, dengan kemampuan mengemudi dalam mode nol emisi 40-65 km lebih dari cukup, mengingat 94 persen perjalanan mobil di Britania Raya kurang dari 25 mil," tutupnya.

Komentar