facebook

China Tak Lagi Butuh Produsen Mobil Asing untuk Industri Otomotif

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
China Tak Lagi Butuh Produsen Mobil Asing untuk Industri Otomotif
Tampilan perdana Lucid Air, sedan listrik yang tampil di New York International Auto Show, Javits Center, Amerika Serikat (13/4/2017) [AFP/Timotius A. Clary].

Skema untuk membangun perusahaan nasional atau negara dilakukan pemerintah China sebagai berikut.

Suara.com - Mulai 1 Januari 2022 China memberlakukan tidak bekerja sama dengan produsen mobil asing untuk usaha patungan.

Langkah ini diumumkan dalam sebuah dokumen yang dirilis Kementerian Perdagangan China dan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional.

Pada 1994, perusahaan asing otomotif mulai mengerjakan proyek patungan di Negeri Tirai Bambu agar bermitra dengan perusahaan lokal. Adapun komposisinya adalah 50:50.

BYD, mobil listrik produksi China. (foto: www..www.evworld.com)
BYD, salah satu produsen asli China, tanpak memamerkan  mobil listrik (foto: www..www.evworld.com)

Lantas di 2018, pemerintah China melonggarkan tingkat kepemilikan maksimum menjadi 70 persen, hal yang mendorong BMW untuk meningkatkan kepemilikannya sebagai mitra usaha Brilliance. Sementara Tesla juga mengoperasikan pabrik yang dimiliki sepenuhnya di China.

Baca Juga: Sambut Pasar Otomotif 2022: Ini Prediksi Mobil yang Diminati

Seperti dilansir dari Carscoops, keputusan ini memungkinkan produsen mobil lama seperti Volkswagen, Ford, General Motors, dan Mercedes-Benz untuk mengambil alih usaha patungan mereka dan membuka peluang bagi produsen mobil baru, seperti Rivian dan Lucid Motors, untuk memasuki pasar China.

Skema usaha patungan seperti ini dirancang untuk memungkinkan merek domestik menyimpan lebih banyak keuntungan dan mendapatkan transfer teknologi dari para produsen mobil.

Terlebih lagi, lima produsen mobil terbesar di China, SAIC, FAW, BAIC, Dongfeng, dan Shangan, merupakan perusahaan milik negara.

Berita ini muncul tak lama setelah Daimler yang bermitra dengan BYD menandatangani perjanjian transfer ekuitas dalam usaha patungan DENZA. Dengan demikian Daimler mengurangi kepemilikannya sehingga hanya memiliki 10 persen sementara BYD mendapatkan hak 90 persen sisanya.

Baca Juga: Apakah PPnBM DTP Masih Diperlukan? Simak Ulasan Pengamat Otomotif

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar