Airlangga Melunak, Pertimbangkan Beri Insentif Sektor Otomotif

Liberty Jemadu Suara.Com
Jum'at, 16 Januari 2026 | 21:31 WIB
Airlangga Melunak, Pertimbangkan Beri Insentif Sektor Otomotif
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto akan mempertimbangkan soal insentif sektor otomotif di 2026. [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih]
Baca 10 detik
  • Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengkaji ulang kebijakan insentif otomotif setelah ngotot tak ada insentif lagi tahun ini.
  • Evaluasi menyeluruh insentif 2026 akan mencakup segmen LCGC, kendaraan listrik, dan hibrida untuk dorong mobil nasional.
  • Kementerian Perindustrian telah mengusulkan skema insentif detail 2026 kepada Kemenkeu demi melindungi ekosistem dan tenaga kerja industri.

Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melunak soal kebijakan insentif untuk sektor otomotif. Setelah berkali-kali ngotot menolak insentif, pendirian politikus Golkar itu kini berubah menjadi pikir-pikir.

Seperti dilansir dari Antara pekan ini, Airlangga bilang kelanjutan kebijakan insentif di sektor otomotif untuk tahun 2026 masih dalam tahap pengkajian menyeluruh, mengingat besarnya dukungan fiskal yang telah diberikan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, selama dua tahun terakhir pemerintah sudah mengalokasikan insentif otomotif dengan nilai mencapai Rp7 triliun. Di sisi lain, kinerja investasi industri kendaraan bermotor, terutama kendaraan listrik, menunjukkan tren yang terus membaik.

"Otomotif silakan direview. Karena otomotif sudah kita berikan insentif selama dua tahun terakhir dan nilainya Rp7 triliun. Dan arahan sekarang adalah, dan investasi di sektor otomotif terutama EV sudah meningkat," ujar Airlangga di Indonesian Business Council (IBC) Business Outlook 2026 di Jakarta, pekan ini.

Ia menambahkan, masuknya sejumlah produsen kendaraan listrik global memperkuat alasan perlunya evaluasi kebijakan. Beberapa merek seperti VinFast dan BYD mulai berinvestasi di Indonesia, mengikuti langkah Hyundai yang lebih dulu menanamkan modal.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah ingin memastikan arah kebijakan berikutnya tidak sekadar melanjutkan insentif lama, melainkan benar-benar mendukung penguatan industri otomotif nasional, termasuk pengembangan mobil nasional.

"Sehingga ke depannya ini akan didorong untuk (pengembangan) mobil nasional," tambah Airlangga.

Lebih lanjut, terkait usulan lanjutan dari Kementerian Perindustrian, Airlangga menyebut pembahasan masih difokuskan pada kajian yang lebih mendasar. Evaluasi diperlukan secara lintas segmen, mulai dari kendaraan ramah lingkungan berbiaya rendah (LCGC) hingga kendaraan listrik dan teknologi hibrida.

"Karena yang lebih substantial berarti harus mulai dari evaluasi dari LCGC sampai kepada EV, Plug-in hybrid, hybrid. Jadi sifatnya lebih menyeluruh," tutupnya.

Baca Juga: 4 Fakta Insentif Mobil Listrik Disetop Tahun Ini, Siap-Siap Harga Naik 15 Persen

Sebelumnya Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong agar pemerintah memberikan insentif untuk industri otomotif. Agus mengatakan industri otomotif sangat penting untuk dibiarkan berjuang sendirian di tengah kondisi pasar yang tak menentu. Diketahui penjualan mobil di Indonesia terus turun dalam dua tahun terakhir.

Agus mengatakan, industri otomotif memiliki keterkaitan ekosistem industri (backward–forward linkage) yang besar terhadap sektor manufaktur.

"Kalau melihat datanya, kewajiban dari Kemenperin untuk mengusulkan insentif. Fokus kami melindungi tenaga kerja yang ada di ekosistem otomotif, karena backward–forward linkage yang besar, maka harus dilindungi," kata Agus.

Kemenperin pun telah menyerahkan usulan insentif otomotif tahun 2026 kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Hanya saja, Agus belum membuka secara rinci poin-poin usulan insentif tersebut. Agus hanya memberikan bocoran bahwa Kemenperin mengusulkan skema insentif yang lebih detail dibandingkan insentif yang diberikan pada masa Covid-19 lalu.

Usulan insentif otomotif tahun 2026 mempertimbangkan segmen pasar, jenis teknologi, besaran Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta nilai emisi.

"Yang harus digarisbawahi adalah kami sangat memperhatikan konsumen. Kalau bicara entry car, first buyer, menjadi prioritas kami. Mengenai angka-angkanya belum bisa saya buka sekarang," terang Agus.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI