- Istilah riting berasal dari serapan bahasa Belanda "richting" yang berarti penunjuk arah kendaraan.
- Kata "sein" diserap dari bahasa Inggris "sign" sebagai tanda komunikasi antar pengguna jalan raya.
- Variasi sebutan riting dipengaruhi oleh faktor kolonialisme, budaya lokal, dan onomatope suara lampu.
Di wilayah lain seperti Medan dan Aceh, sebutan riting bahkan jauh lebih dominan dibandingkan kata sein. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh adaptasi budaya terhadap istilah teknis kendaraan.
Memahami Fungsi dan Masalah Lampu Riting
Selain soal nama, sering muncul pertanyaan teknis seperti: kenapa lampu riting berwarna kuning?
Secara internasional, warna kuning atau jingga dipilih karena memiliki panjang gelombang yang tinggi, sehingga tetap terlihat jelas meski dalam kondisi hujan deras atau kabut, namun tidak menyilaukan mata seperti warna merah.
Sebagai pengendara, Anda juga harus waspada jika terjadi kendala teknis. Misalnya, kenapa lampu riting tidak berkedip? Biasanya hal ini disebabkan oleh flasher yang rusak atau bohlam yang putus.
Ciri-ciri flasher rusak adalah lampu riting hanya menyala diam (tidak berdenyut) atau bahkan tidak menyala sama sekali.
Perlu diingat juga, jika Anda melihat lampu sein nyala 2 secara bersamaan (kiri dan kanan), itu disebut sebagai lampu hazard yang digunakan hanya dalam keadaan darurat, bukan saat berjalan lurus di persimpangan.
Perbedaan istilah antara sein dan riting hanyalah cerminan dari kekayaan linguistik dan sejarah panjang otomotif di Indonesia.
Baik Anda menyebutnya riting maupun sein, fungsinya tetaplah sama: sebagai alat komunikasi krusial untuk menjaga keselamatan di jalan raya.
Kini Anda sudah tahu, kan, lampu riting namanya apa dalam sejarah dan mengapa istilah itu bisa populer? Pastikan selalu mengecek kondisi flasher dan bohlam Anda agar tetap berfungsi optimal saat berbelok!