- Tiga gugatan class action menuduh transmisi otomatis delapan percepatan (UA80) Toyota rentan kerusakan dini pada berbagai model kendaraan.
- Kerusakan inti yang teridentifikasi melibatkan penumpukan panas berlebih mekanis dan pemrograman perangkat lunak yang menyebabkan perpindahan gigi prematur.
- Pemilik melaporkan gejala seperti kegagalan masuk gigi, slip tiba-tiba, dan biaya perbaikan tinggi, diduga Toyota telah mengetahui cacat ini sebelumnya.
Suara.com - Toyota tengah menghadapi gelombang masalah hukum baru terkait salah satu komponen paling vital pada kendaraannya. Tiga gugatan class action terbaru menuduh bahwa transmisi otomatis delapan percepatan dengan kode UA80 milik pabrikan asal Jepang tersebut rentan mengalami kerusakan dini.
Hal ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pemilik mengenai daya tahan jangka panjang serta nilai jual kembali kendaraan mereka.
Gugatan ini mencakup berbagai model populer mulai dari Toyota Highlander keluaran 2017 hingga model mewah terbaru seperti Lexus TX 350. Keluhan yang diajukan menyatakan bahwa transmisi tersebut mengalami cacat inti yang serius.
Bahkan dalam dokumen hukum disebutkan bahwa "kedua cacat tersebut pada dasarnya berbahaya," karena dapat menyebabkan kendaraan berperilaku tidak terduga saat berada di jalan raya.
Berdasarkan laporan para pemilik, gejala kerusakan yang muncul meliputi kegagalan masuk gigi, slip secara tiba-tiba, kebocoran cairan, hingga suara aneh dan bau terbakar. James LaBoutheller yang merupakan pemilik Toyota Camry XSE tahun 2020 menceritakan bahwa ia harus menanggung biaya jasa hingga ribuan dolar meski pihak Toyota bersedia mengganti unit transmisi yang rusak.
Secara teknis gugatan tersebut merinci dua kerusakan utama. Pertama adalah masalah mekanis berupa penumpukan panas berlebih di dalam gearbox yang mempercepat keausan komponen. Kedua berkaitan dengan pemrograman perangkat lunak yang salah sehingga menyebabkan transmisi berpindah gigi terlalu dini. Langkah ini diduga dilakukan Toyota untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar namun justru memberikan tekanan berlebih pada komponen internal.
Pihak penggugat menuduh Toyota sebenarnya sudah mengetahui masalah ini sejak tahap pengujian ketahanan sebelum kendaraan dipasarkan. Namun perusahaan diduga mengabaikan tanda peringatan tersebut selama bertahun-tahun termasuk keluhan pelanggan dan catatan layanan diler.
Kasus lain dialami oleh Neil Pallaya yang memiliki Toyota Highlander tahun 2020. Kendaraannya mengalami kerusakan transmisi total saat mencapai jarak tempuh tertentu. Karena masa garansi telah habis ia diminta membayar lebih dari 7.400 dolar AS untuk biaya penggantian.
Ia menilai bahwa cacat tersebut berasal dari kesalahan desain mendasar dan pihak pabrikan gagal memberikan solusi yang adil bagi para konsumen yang terdampak. Berikut daftar mobil Toyota yang mengalami masalah transmisi:
Baca Juga: 10 Merek Mobil dengan Retail Sales Tertinggi Januari 2026: Mitsubishi 3 Besar, BYD Apa Kabar?
- Toyota Highlander 2017-sekarang
- Toyota Grand Highlander 2024-sekarang
- Toyota Camry 2018-2024
- Toyota Sienna 2017-2020
- Toyota Avalon 2019-2022
- Toyota RAV4 2019-sekarang
- Lexus RX 350 tahun 2023-sekarang
- Lexus ES 250 tahun 2021-sekarang
- Lexus ES 350 tahun 2019-sekarang
- Lexus NX 250 dan NX 350 tahun 2022-sekarang
- Lexus TX 350 tahun 2024-sekarang