Suara.com - Isu otomotif dan kebijakan industri kembali jadi sorotan di awal 2026. Ada daftar mobil dengan pajak murah dan bensin irit yang bisa jadi pilihan ramah kantong, serta perbandingan menarik antara mobil hybrid dan plug-in hybrid untuk membantu konsumen menentukan pilihan terbaik.
Sementara itu, ukuran dan harga Avanza jelang musim mudik juga dibahas, memastikan mobil keluarga ini tetap relevan di pasar.
Di sisi kebijakan, rencana impor 105 ribu pikap dari India menuai kritik keras, termasuk dari Rektor Paramadina yang menilai langkah ini sebagai bentuk deindustrialisasi terselubung.
Namun, Agrinas punya alasan tersendiri memilih impor ketimbang produk lokal. Tak kalah menarik, Geely EX2 mencatat ribuan pemesanan di IIMS 2026, menandakan antusiasme tinggi terhadap mobil listrik baru.
1. 5 Mobil dengan Pajak Murah, Bensin Irit, dan Opsen Nggak Bikin Perih
![Suzuki Katana [OLX]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/07/37630-suzuki-katana.jpg)
Memilih mobil bekas tidak selalu soal harga awal saja. Biaya operasional seperti pajak tahunan, konsumsi bahan bakar, hingga biaya servis (opsen) sehari-hari juga menentukan seberapa ramah mobil itu pada kantong Anda.
Untuk kamu yang ingin punya mobil tanpa harus pusing tiap bulan urus pajak atau isi bensin terlalu sering, daftar berikut mencakup lima mobil murah yang dikenal pajak ringan, konsumsi bensin irit, dan biaya perawatan yang bersahabat.
2. Ukuran Mobil Avanza Berapa? Pastikan Muat di Garasi, Segini Harganya Jelang Musim Mudik Lebaran

Toyota Avanza sudah lama dikenal sebagai mobil keluarga andalan di Indonesia. Popularitasnya bukan tanpa alasan.
Selain mampu menampung hingga tujuh penumpang, mobil ini juga dikenal tangguh, hemat bahan bakar, serta memiliki biaya perawatan yang relatif terjangkau.
3. Alasan Agrinas Pilih Impor 105 Ribu Pick Up India Ketimbang Produk Lokal

PT Agrinas Pangan Nusantara menjadi perbincangan publik setelah memutuskan untuk mengimpor 105.000 unit truk dan pick up dari India.
Kendaraan bermerek Mahindra dan Tata Motors tersebut didatangkan guna memenuhi kebutuhan armada Koperasi Merah Putih. Kebijakan ini sempat menuai sorotan tajam lantaran dianggap tidak melibatkan industri otomotif dalam negeri.