- Suzuki diproyeksikan melampaui Honda sebagai produsen mobil terbesar kedua di Jepang pada tahun fiskal 2027 mendatang.
- Suzuki mencatat lonjakan penjualan global berkat fokus pada pasar negara berkembang seperti India dan ekspansi ekspor.
- Strategi Suzuki berfokus pada kendaraan hybrid dan mobil kecil yang efisien, menghindari persaingan ketat di pasar Tiongkok.
Suara.com - Persaingan produsen mobil Jepang semakin panas. Menurut laporan Autobuzz, Suzuki berpotensi menyalip Honda sebagai produsen mobil terbesar kedua di Jepang berdasarkan volume penjualan global pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027.
Suzuki diprediksi menjual 3,55 juta unit, sementara Honda hanya 3,39 juta unit.
Suzuki mencatat lonjakan penjualan global hingga 7 persen, sementara Honda justru mengalami penurunan.
Ironisnya, Suzuki mampu meraih posisi ini meski tidak memiliki pasar di Amerika Serikat maupun Tiongkok, dua pasar otomotif terbesar dunia.
Dua nama besar asal Jepang: Suzuki Motor Corporation dan Honda Motor Company. Honda selama ini dikenal sebagai raksasa otomotif dengan portofolio global yang luas, sementara Suzuki lebih fokus pada pasar India dan negara berkembang.
Proyeksi ini berlaku untuk tahun fiskal 2026/2027. Suzuki sudah menunjukkan tren positif sejak 2025, dengan penjualan 3,32 juta unit dan laba bersih mencapai Rp49,5 triliun (JPY 439,2 miliar).
Pendapatan bahkan tembus Rp708 triliun (JPY 6,29 triliun), tertinggi sejak Suzuki masuk industri otomotif pada 1955.
Pasar terbesar Suzuki ada di India, menyumbang 56 persen penjualan global pada 2025. Tahun depan, kontribusi India diprediksi naik hingga 60 persen.

Suzuki juga memperluas ekspor ke Afrika, dengan peningkatan 35 persen menjadi 448 ribu unit.
Ada beberapa faktor kunci:
- Tidak masuk pasar AS dan Tiongkok, sehingga Suzuki terhindar dari masalah tarif dan persaingan EV yang menghantam Honda.
- Fokus pada hybrid dan mobil kecil yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar berkembang.
- Ekspansi kapasitas produksi di India, dengan target 4 juta unit pada 2030.
Honda sendiri harus mengubah strategi EV di Tiongkok, beralih ke hybrid karena penjualan listrik murni tidak sesuai harapan.
Suzuki diperkirakan akan menyalip Honda di posisi kedua setelah Toyota. Namun, tantangan tetap ada: persaingan ketat dengan Mahindra, Tata, Hyundai, serta Honda dan Toyota di India.
Selain itu, konflik di Timur Tengah bisa mengurangi laba hingga Rp11,2 triliun (JPY 100 miliar) akibat biaya rantai pasok yang meningkat.
Jika Suzuki benar-benar menyalip Honda, konsumen di pasar berkembang akan semakin dimanjakan dengan pilihan mobil terjangkau dan efisien. Sementara Honda harus berbenah agar tidak kehilangan pangsa pasar lebih jauh.