- Toyota melakukan recall terhadap 270.000 kendaraan model Tundra, Lexus LX, dan GX akibat kegagalan fungsi mesin mendadak.
- Kegagalan teknis disebabkan oleh serpihan logam sisa produksi yang merusak komponen mesin presisi tinggi saat beroperasi.
- Toyota wajib mengganti seluruh unit mesin secara gratis sebagai dampak kerusakan mesin yang sangat fatal tersebut.
Suara.com - Selama puluhan tahun, Toyota telah membangun reputasi sebagai produsen mobil bandel dengan daya tahan mesin yang mumpuni.
Namun, warisan emas itu kini sedang dipertaruhkan. Masalah serius yang menimpa Toyota Tundra, pikap full-size andalan mereka di Amerika Serikat, mengancam akan meruntuhkan kepercayaan konsumen setianya.
Sejauh ini, produsen otomotif terbesar di dunia ini harus melakukan recall terhadap sekitar 270.000 mesin yang mengalami kegagalan fungsi secara mendadak.
Krisis ini bermula ketika Toyota memutuskan untuk beralih dari mesin V8 5,7 liter yang dikenal "anti-peluru" dan sangat tangguh ke mesin V6 3,4 liter twin-turbo yang lebih kompleks.
Meskipun secara performa mesin baru ini sangat mumpuni untuk menarik beban berat, sisi durabilitasnya justru menjadi sorotan tajam.
Joel Feder dari The Drive mencatat ironi di balik situasi ini dengan menyatakan, "Produsen otomotif terbesar di dunia ini membangun reputasinya di atas reliabilitas yang kokoh. Sekarang, truk pikap besarnya mulai meruntuhkan warisan tersebut".

Penyebab utama kegagalan mesin ini sangat spesifik namun fatal: adanya serpihan logam sisa proses produksi, atau yang secara teknis disebut sebagai swarf, yang tertinggal di dalam mesin saat perakitan di pabrik.
Pada mesin generasi lama dengan toleransi yang lebih longgar, serpihan kecil mungkin tidak menjadi masalah besar. Namun, mesin V6 modern ini beroperasi dengan tekanan silinder yang sangat tinggi dan komponen yang sangat presisi.
Serpihan logam ini bisa menempel pada bagian main bearing nomor satu dan menyebabkan kerusakan katastropik secara tiba-tiba, bahkan saat mobil sedang melaju di jalan tol.
Caleb Jacobs, pengamat otomotif kawakan juga dari The Drive, menjelaskan betapa rumitnya tantangan teknis yang dihadapi Toyota saat ini.
Ia mencatat bahwa mesin baru ini bekerja pada tekanan yang sangat tinggi sehingga sisa kotoran produksi yang dulunya tidak dianggap berbahaya, kini menjadi isu utama bagi keutuhan mesin.
"Isunya adalah begitu kotoran dengan ukuran dan bentuk tertentu menempel pada main bearing nomor satu, itulah yang menyebabkannya aus seiring waktu di bawah tekanan tinggi," ungkap Caleb merujuk pada dokumen resmi dari otoritas keselamatan jalan raya.

Skala perbaikan yang harus dilakukan Toyota pun tidak main-main. Alih-alih hanya membersihkan atau mengganti komponen kecil, Toyota terpaksa harus mengganti seluruh unit mesin secara gratis bagi ratusan ribu kendaraan yang terdampak.
Di berbagai diler, pemandangan truk Tundra yang "dibelah"—di mana seluruh bodi mobil harus dipisahkan dari rangka (frame) hanya untuk mencopot dan memasang mesin baru—menjadi pemandangan yang cukup menyesakkan bagi para pemiliknya.
Masalah ini tidak hanya menyerang Tundra, tetapi juga merembet ke model SUV mewah lainnya seperti Lexus LX dan GX yang berbagi basis mesin yang sama.