- Per 10 Juni, harga Pertamax naik menjadi Rp16.950 per liter, memicu pemilik mobil mempertimbangkan penggunaan bahan bakar Pertalite.
- Penggunaan Pertalite pada mesin yang semestinya menggunakan Pertamax menyebabkan penumpukan kerak karbon keras serta gejala detonasi mesin.
- Risiko lain meliputi penurunan kompresi mesin, oli cepat kotor, hingga kerusakan komponen busi dan filter bahan bakar kendaraan.
Suara.com - Per 10 Juni, harga BBM jenis Pertamax (RON 92) mengalami penyesuaian signifikan menjadi Rp 16.950 per liter. Kenaikan ini tentu memicu dilema bagi banyak pemilik mobil.
Di tengah tekanan ekonomi, godaan untuk beralih ke Pertalite (RON 90) yang lebih murah memang sangat kuat.
Namun, sebelum Anda memutuskan untuk ikut mengantre di jalur Pertalite, ada baiknya memahami konsekuensi teknis yang akan dihadapi oleh mesin mobil.
Berdasarkan penjelasan teknis dari mekanik berpengalaman dalam video YouTube AHA Pedia, peralihan dari Pertamax ke Pertalite tidak sesederhana "yang penting mobil bisa jalan."
Berikut adalah rentetan dampak yang terjadi jika mobil yang biasa menggunakan Pertamax dipaksa menenggak Pertalite.
1. Karbon Menumpuk dan Kerak Mesin Menjadi Lebih Keras
Salah satu perbedaan paling kasat mata antara pembakaran Pertamax dan Pertalite terletak pada sisa residu atau kerak karbon di ruang bakar dan komponen mesin, seperti exhaust dan manifold.
Mas Hardi menunjukkan perbandingan langsung dengan menyentuh kerak di dalam komponen mesin mobil yang menggunakan Pertamax.
Pada mobil menggunakan Pertamax, kerak memiliki karakteristik yang lunak dan berminyak sehingga sangat mudah dibersihkan.
"Dia (kerak) dicolek pakai tangan gini aja keangkat dan meninggalkan sejenis minyak ya. Kalau Pertalite, keraknya itu kering dan keras. Dan itu dibersihkan lebih sulit," jelas sang mekanik yang bernama Hardi.
2. Gejala Ngilitik (Detonasi) dan Penurunan Kompresi
Akibat dari tumpukan karbon yang tebal dan mengeras di ruang bakar, proses pembakaran menjadi tidak sempurna.
Hal ini memicu terjadinya detonasi atau yang akrab disebut gejala mesin ngelitik.
Efeknya jika pemilik mobil terlalu sering melakukan engine cleaner untuk menghilangkan gejala ngelitik tersebut, cairan pembersih kimia berpotensi masuk ke sela-sela ring piston.
Dalam jangka panjang, hal ini bisa membuat ring piston menjadi lengket atau mengempis, yang berujung pada turunnya kompresi mesin.
Jika kompresi sudah turun, performa atau power mobil akan terasa hampa dan loyo.
3. Oli Mesin Cepat Kotor dan Risiko Engine Sludge (Lumpur Oli)
Bahan bakar beroktan lebih rendah menghasilkan lebih banyak karbon.
Tugas oli mesin bukan hanya melumasi, melainkan juga menyaring kotoran di celah antara piston dan silinder.
Ketika beralih ke Pertalite, beban kerja oli dalam menyaring karbon pembakaran akan meningkat drastis.
"Ketika kita menggunakan Pertalite, maka perhatikan olinya, dia akan lebih banyak menyaring karbon dari sisa pembuangan gas buangnya atau sisa pembakarannya. Otomatis karbon yang dihasilkan lebih banyak, oli mesinnya akan menjadi cepat kotor," tegas Hardi.
Jika pemilik kendaraan tetap memaksakan mengganti oli berdasarkan batas maksimal kilometer standar pabrikan (misal 10.000 km) tanpa melihat kondisi BBM yang digunakan, risiko terjadinya engine sludge (oli mengental menjadi lumpur) akan mengintai.
4. Komponen Pendukung (Busi & Filter Bensin) Lebih Cepat Aus
Sistem pembakaran yang tidak sempurna akibat penurunan oktan berdampak buruk pada ketahanan komponen kecil seperti busi.
Menurut sang mekanik, pembakaran yang tidak ideal akan mengikis elektroda positif pada busi secara lebih cepat, membuat usia pakai busi menjadi lebih pendek.
Selain itu, kualitas Pertalite yang berada di bawah Pertamax mengharuskan pemilik mobil melakukan pengecekan filter bensin secara lebih rutin agar tidak terjadi penyumbatan.
Solusi Jika Terpaksa Harus Pakai Pertalite
Apabila kondisi keuangan atau keterbatasan akses membuat Anda terpaksa beralih ke Pertalite, sang mekanik membagikan beberapa tips mitigasi agar mesin tidak cepat rusak:
- Sesekali Mobil Harus 'Digeber' (Italian Tune-up)
Jangan membawa mobil terlalu santai secara terus-menerus. Sesekali pacu mobil dengan kecepatan tinggi agar katup throttle terbuka penuh.
Aliran udara yang kencang akan membantu menghantam dan merontokkan sisa-sisa endapan karbon di ruang bakar sebelum mengeras.
- Percepat Jadwal Perawatan (Maintenance)
Jadwal ganti oli mesin, pengerjaan tune-up, serta pengecekan filter bensin harus dimajukan lebih cepat dari jadwal biasanya demi mengompensasi kualitas bahan bakar yang menurun.
Beralih dari Pertamax ke Pertalite mungkin terasa meringankan beban harian saat di SPBU. Namun, dari kacamata teknis, Anda sebenarnya sedang "menabung" kerusakan.
Pilihan kembali ke tangan Anda, bayar lebih banyak untuk BBM berkualitas, atau bayar ekstra di akhir untuk perawatan mesin.