-
Jangan asal usap visor dan bodi motor kering agar terhindar dari baret permanen.
-
Kurangi kecepatan dan hindari rem mendadak karena abu basah membuat aspal sangat licin.
-
Segera bilas motor dan cek area CVT serta filter udara untuk cegah kerusakan mesin.
Suara.com - Hujan abu vulkanik seringkali dianggap sepele layaknya debu jalanan biasa. Padahal, partikel material gunung berapi ini punya sisi gelap yang siap mengancam keselamatan nyawa sekaligus "kesehatan" tunggangan Anda di jalan raya.
Kesalahan paling umum dan fatal yang sering dilakukan pemotor saat terjebak hujan abu adalah refleks mengusap visor helm atau bodi motor.
Sifat abu vulkanik yang sangat abrasif bagaikan serpihan kaca mikroskopis. Mengusapnya secara sembarangan sama saja dengan mengamplas permukaan visor hingga baret parah dan mengganggu pandangan.
Tak hanya mengintai keselamatan penglihatan pengendara, hujan abu adalah pembunuh senyap bagi komponen vital sepeda motor.
Partikel halus ini bisa dengan mudah menyusup masuk ke sistem penyaring udara, menumpuk, mencekik ruang bakar mesin, hingga merusak area CVT tanpa Anda sadari.
Oleh karena itu, menerobos kepungan abu vulkanik dan asap membutuhkan lebih dari sekadar nyali. Ini tentang strategi bertahan.
Perlengkapan wajib seperti helm dengan visor tertutup rapat, masker penyaring partikel halus, hingga kacamata ekstra adalah tameng utama dari iritasi yang menyiksa.
PENTING DIINGAT: Jangan pernah menyepelekan abu vulkanik saat sudah jatuh dan bercampur air hujan di aspal. Teksturnya akan seketika berubah menjadi lumpur licin yang melenyapkan daya cengkeram ban secara drastis, membuat motor sangat rentan tergelincir bila Anda melakukan pengereman mendadak.
Jika perjalanan memang tidak mendesak, mengurungkan niat keluar rumah adalah langkah paling bijaksana.

Namun, bagi Anda yang terpaksa harus tetap berada di balik kemudi saat langit memutih karena abu, ada protokol ketat yang wajib dipatuhi agar selamat sampai tujuan.
Protokol Sebelum Menyalakan Mesin
Sebelum roda berputar, pastikan tunggangan Anda dalam kondisi prima. Cek tekanan angin ban, respons sistem pengereman, dan fungsi seluruh kelistrikan seperti lampu utama, sein, dan lampu belakang.
Pastikan juga Anda sudah mengantongi informasi resmi terbaru soal arah sebaran abu hingga potensi penutupan jalur.
Komponen penyaring udara wajib mendapat perhatian ekstra agar abu tidak bersarang di sana.
Turunkan Ego, Jaga Jarak Ekstra
Di tengah jarak pandang yang makin terbatas, kecepatan adalah musuh utama. Berkendaralah dengan sangat halus, hindari memelintir gas atau bermanuver secara agresif.
Berikan perhatian penuh pada lalu lintas di depan dan jaga jarak aman lebih jauh dari biasanya.
Menyerah Saat Keadaan Memburuk
Jika pekatnya abu dan asap mulai membutakan pandangan, jangan pernah memaksakan diri.
Segera kurangi kecepatan secara bertahap, pastikan lampu utama menyala, dan carilah tempat yang aman untuk menepi.
Selama berlindung, pantang membuka visor helm karena abu pekat masih beterbangan liar di udara.
Pertolongan Pertama Pasca Terpapar
Selamat sampai tujuan bukan berarti tugas selesai. Segera bersihkan motor Anda, namun ingat, hindari menggosok permukaan bodi dalam kondisi kering!
Bilas perlahan dengan air mengalir secara hati-hati untuk merontokkan abu. Setelah itu, cek kondisi filter udara, area CVT, rantai, hingga kampas rem.
Jika ada tarikan yang terasa berat atau penurunan performa, segera bawa ke AHASS terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Manager Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM), Daniel Aria Sulistya Nugroho mengatakan pengendara perlu waspada dan tidak memaksakan diri saat terjadi hujan abu vulkanik. Prediksikan bahaya sedini mungkin, sehingga dapat mengantisipasi sebelum bahaya muncul.
“Lakukan persiapan sebelum perjalanan, kurangi kecepatan, jaga jarak aman, perhatikan kondisi jalan, dan segera menepi apabila kondisi sudah tidak memungkinkan untuk berkendara dengan aman. Jika perjalanan tidak mendesak, menunda perjalanan hingga kondisi kembali aman tetap menjadi pilihan terbaik. Tetap Cari Aman saat berkendara,” ujar Daniel.