Eks Kepala BMKG Soroti Salah Kaprah Penanganan Karhutla, Singgung soal Birokrasi Berbelit

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Kamis, 10 September 2026 | 12:20 WIB
Eks Kepala BMKG Soroti Salah Kaprah Penanganan Karhutla, Singgung soal Birokrasi Berbelit
Relawan pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama]
baca 10 detik
  • Mantan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan pelaksanaan modifikasi cuaca untuk karhutla sering terlambat.
  • Pembasahan lahan gambut idealnya dilakukan sejak puncak musim hujan pada Januari hingga April.
  • Keterlambatan penerbitan surat keputusan kepala daerah menghambat anggaran BNPB melakukan pencegahan dini.

Suara.com - Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia dinilai kerap salah kaprah dan terlambat.

Langkah intervensi iklim tersebut idealnya dieksekusi sejak puncak musim hujan sebagai tindakan pencegahan, bukan saat api sudah berkobar dan melahap kawasan gambut.

Mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menuturkan bahwa fenomena Karhutla dan kekeringan sebenarnya sudah bisa diprediksi secara akurat sejak beberapa bulan sebelum kejadian.

"Kapasitas memutuskan, ini ada contoh beberapa kali terjadi. Misalnya ya, saya cerita dari pengalaman saat di BMKG. Sebetulnya akan terjadi kekeringan, akan terjadi karhutla, dan akan terjadi apa pun dampak selanjutnya itu kan sudah bisa diketahui beberapa bulan sebelumnya," kata Dwikorita dikutip, Kamis (10/9/2026).

Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menilai bahwa membasahi lahan gambut di tengah musim kemarau adalah langkah yang terlambat.

Menurut analisis data iklim bertahun-tahun, pembasahan lahan justru harus mencakup periode puncak musim hujan, yakni mulai Januari hingga April.

"Jadi sejak musim hujan harusnya, yang sudah terjadi bertahun-tahun sebelumnya, untuk mengatasi hal itu dimulai bahkan tahun 2023 tuh mulai bulan Januari. Saat puncak musim hujan, Januari terus sampai April. Itu masih musim hujan," ungkapnya.

Ditambahkan Dwikorita bahwa pembasahan sejak dini sangat krusial mengingat karakteristik tanah gambut yang rawan menyerap api hingga ke lapisan terdalam jika air tanahnya menyusut drastis.

Jika gambut sudah terlanjur mengering saat kemarau tiba, pemadaman permukaan tidak akan pernah cukup menuntaskan masalah.

baca juga

"Yang kena karhutla itu sudah sering, kita sudah ngerti, sudah ada knowledge, ada data. Itu karena air tanahnya tuh kering jadi turun jauh ke dalam. Sehingga kalau terbakar, yang terbakar tuh tidak hanya permukaannya. Itu api tuh membakar sampai jauh berapa meter. Iya, jadi di gambut tuh seperti itu, semua orang sudah ngerti itu harusnya," paparnya.

"Sehingga strateginya itu pun harus dibasahi dan lama basahinya. Mulai Januari, Februari, Maret, April gitu ya. Nah, itu makanya untuk membasahi itu kan perlu modifikasi cuaca. Ada prosedurnya," katanya menamabhkan.

Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]

Belum lagi soal prosedur pencegahan yang sejatinya menuntut kolaborasi lintas lembaga. Setelah BMKG memberikan analisis iklim, laporan tersebut diteruskan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah daerah untuk menyepakati tindakan modifikasi cuaca sejak awal.

"Pertama BMKG harus memberikan analisis prediksi. Meskipun masih Januari masih hujan lebat, kita sudah modifikasi cuaca untuk kekeringan," kata dia.

Sayangnya, pemanfaatan anggaran di BNPB kerap kali terbentur aturan birokrasi yang berbelit. BNPB tidak dapat menerjunkan pesawat modifikasi cuaca sebelum adanya penerbitan dokumen resmi dari pimpinan daerah setempat.

"Nah tapi BNPB meskipun punya anggaran, tidak bisa melakukan modifikasi cuaca kalau pemerintah daerah tidak mengeluarkan SK Siaga Karhutla. SK gubernur," kata dia.

Kelambatan pemerintah daerah dalam menerbitkan surat keputusan emergency ini pada akhirnya menghambat eksekusi pencegahan dini. Dampaknya, modifikasi cuaca baru dipaksakan berjalan saat kondisi lahan sudah ludes terbakar dan api telanjur menyebar.

"Dan sekarang, ini sudah terbakar baru modifikasi cuaca. Ternyata setelah saya cek ini di BMKG di daerah, 'kami sudah menyampaikan beberapa bulan sebelumnya' tapi kan tidak ada yang percaya, karena keputusan itu lho yang lama itu," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Media Asing Sorot Kebakaran Hutan Indonesia Sumbang Emisi Tertinggi Dunia

Media Asing Sorot Kebakaran Hutan Indonesia Sumbang Emisi Tertinggi Dunia

News | Kamis, 10 September 2026 | 11:26 WIB

Karhutla Jadi Bencana Paling Banyak Terjadi di Indonesia, Capai 627 Kejadian

Karhutla Jadi Bencana Paling Banyak Terjadi di Indonesia, Capai 627 Kejadian

Foto | Kamis, 10 September 2026 | 07:00 WIB

Deforestasi dan Karhutla Disebut Jadi Lingkaran Setan: Mengapa?

Deforestasi dan Karhutla Disebut Jadi Lingkaran Setan: Mengapa?

News | Rabu, 09 September 2026 | 18:49 WIB

Kematian Orangutan Sempurna Ungkap Ancaman Karhutla bagi Satwa Liar

Kematian Orangutan Sempurna Ungkap Ancaman Karhutla bagi Satwa Liar

News | Rabu, 09 September 2026 | 14:51 WIB

Terkini

Kemendagri Evaluasi Layanan Satyalancana Karya Satya Bagi PNS Daerah

Kemendagri Evaluasi Layanan Satyalancana Karya Satya Bagi PNS Daerah

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:50 WIB

Baby Oil Bisa Dipakai Apa Aja? Ini Efeknya untuk Kulit Anak dan Orang Dewasa

Baby Oil Bisa Dipakai Apa Aja? Ini Efeknya untuk Kulit Anak dan Orang Dewasa

Lifestyle | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:48 WIB

Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Kebebasan Pers di Indonesia Disorot Lembaga Dunia

Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Kebebasan Pers di Indonesia Disorot Lembaga Dunia

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:47 WIB

Negara Kekurangan Lapangan Kerja, Rakyat Disuruh Berwirausaha

Negara Kekurangan Lapangan Kerja, Rakyat Disuruh Berwirausaha

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:45 WIB

Malaysia Kaji Rencana Proyek Kereta Api Trans-Borneo Hubungkan Kalimantan hingga Brunei

Malaysia Kaji Rencana Proyek Kereta Api Trans-Borneo Hubungkan Kalimantan hingga Brunei

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:43 WIB

Tanda Tanya Kapolri Kompak Pindah Tiga Mantan Kapolresta Solo ke Lemdiklat

Tanda Tanya Kapolri Kompak Pindah Tiga Mantan Kapolresta Solo ke Lemdiklat

Jakarta | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:41 WIB

Prabowo Setuju Bantuan Asing Tangani Karhutla, BPNB: Kita Lihat Bantuan Apa Saja

Prabowo Setuju Bantuan Asing Tangani Karhutla, BPNB: Kita Lihat Bantuan Apa Saja

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:40 WIB

Jejak Akademis dan Desa, Rektor IPB Alim Setiawan Slamet Kini Resmi Jabat Wamentan

Jejak Akademis dan Desa, Rektor IPB Alim Setiawan Slamet Kini Resmi Jabat Wamentan

Bogor | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:39 WIB

Wacana Pemakzulan Gibran Macet di DPR dan Istana, Elite Politik Masih Wait and See

Wacana Pemakzulan Gibran Macet di DPR dan Istana, Elite Politik Masih Wait and See

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:38 WIB

Penyerangan Bersenjata di Kampung Ambon, Polisi Uji Balistik Selongsong Peluru

Penyerangan Bersenjata di Kampung Ambon, Polisi Uji Balistik Selongsong Peluru

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 16:35 WIB

×