SUARA PEKANBARU- Dalam ceramahnya Buya Yahya menyampaikan soal bacaan takbir Hari Raya Idul Fitri 2023. Semua umat Islam menyambut dan menyerukan hari kemenangan.
Adapin waktu pelaksaan takbir Hari Raya Idul Fitri dimulai saat memasuki maghrib atau matahari terbenam 1 Syawal, yang artinya bulan Ramadhan berakhir.
Kata Buya Yahya, Adapun bacaan takbir disebutkannya ada sedikit perbedaan antara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dan para ulama. Tapi hal itu bukan sesuatu yang terlarang untuk dilantunkan.
Bertalkbir 'Allahu Akbar' ketika memasuki Idul Fitri, adalah bentuk syukur terhadap nikmat yang sudah diberikan Allah.
Adapun Lafadz takbir ’Ied yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW sebagai berikut:
1. Lafadz takbir ‘Ied yang disandarkan kepada Ibn Mas’ud, ‘Umar ibn al-Khattab dan ‘Ali ibn Abi Thalib, sebagai berikut:
“Allahu akbar allahu akbar, la ilaha illallah wallahu akbar alllahu akbar walillahil hamd”
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan bagi Allah-lah segala puji.”
Terkait dengan lafadz tersebut berdasarkan dari hadits riwayat Ibn Abi Syaibah, Mushannaf, tahqiq: Kamal al-Hut, juz 1 hlm 490 no. 5650, 5651, 5653. Ibn al-Mundzir, Al-Awshat, juz 7, hlm 22 no: 223, hlm 23, 24, 25 no:224, 225, 226)
Ucapan Allahu Akbar dalam takbir ‘Ied dalam redaksi hadits tersebut, jelas diucapkan dua kali dan bukan tiga kali.
2. Lafadz takbir ‘Ied sesuai hadits riwayat Abdur Razaq dari Salman, dengan sanad yang shahih, mengatakan:
Artinya: “Bertakbirlah: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Sungguh Maha Besar. (lihat ash-Shan’aniy, Subul as-Salam, Juz II: 76)
Artinya: “Bertakbirlah: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Sungguh Maha Besar. (lihat al-Baihaqi,Sunan al-Kubra, Juz III: 316)
Ada juga takbir yang lebih panjang lagi dan berikut lafal lengkapnya.
“Allahu akbar kabira, wal hamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukrataw wa ashila, la ilaha illallah, wa la na’budu iyyahu mukhlisina lahud din, wa law karihal kafirun, la ilaha illlallah wahdah, shadaqa wa’dah, wa nashara ‘abdah, wa hazamal ahzab wahdah, la ilaha illallah wallahu akbar”
Dijelaskan oleh Buya Yahya, kalau takbir pada Lebaran adalah berhukum sunnah, khususnya di Idul Fitri.
"Takbir yang dikumandangkan di jalan-jalan adalah sunnah, mulai dari terbenamnya matahari akhir Ramadhan sampai imam naik mimbar. Disunnahkan kita melantunkan takbir," ungkap Buya Yahya dilansari dari Youtube Al-Bahjah.
Dari lafadz yang disebutkan, ada beberapa jenis bacaan takbir seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan ada tambahan dari Imam Syafi'I, yakni Allahu Akbar Kabira wal-hamdu lil-Lahi katsira dan seterusnya.
Buya Yahya mengatakan terkait dengan makna tang terkandung adalah benar dan bukan suatu yang salah.
"Tambahan dari Imam Syafi'i tersebut adalah suatu yang umum, dan dianggap sebagai pemberi semangat, boleh dibaca, dan dianggap sebagai kebaikan," terang Buya Yahya.
Kara kata dia, ada doa-doa dan tambahan tersebut diambil dari dari firman Allah SWT termasuk ditambah dengan gabungan hadist-hadist dari Rasulullah.
"Orang munafik adalah kafir bathin. Maka menyebut wa lau karihal-munafiquun, sangat tidak apa-apa dan aman," terangnya. (*)