Suara Ponorogo – Pondok Pesantren Al-Islam Joresan di Kecamatan Mlarak, Ponorogo menggelar pengamatan gerhana matahari hibrida Kamis, 20 April 2023.
Dalam pengamatan yang menggunakan 3 buah teleskop, pengelola pondok juga membagikan sejumlah kacamata fim untuk menyaksikan secara langsung gerhana matahari.
Imroatul Munfarida, Dosen ilmu Falaq IAIN Ponorogo menuturkan untuk gerhana matahari yang disaksikan dari Pulau Jawa posisinya tidak tertutup 100 persen, namun hanya bisa disaksikan 50 persen menyerupai bulan sabit.
![anak anak melihat gerhana matahari dengan kacamata [ponorogo.suara.com/dedy.s]](https://media.suara.com/suara-partners/ponorogo/thumbs/1200x675/2023/04/20/1-unadjustednonraw-thumb-766.jpg)
Ia menjelaskan untuk dapat menyaksikan secara sempurna menyerupai cincin mataharai, hal tersebut dapat terlihat dari Biak, Papua
“untuk nobar di Ponorogo, kami hanya bisa menyaksikan posisi gerhana matahari hanya 50 persen atau menyerupai bulan sabit.” Ungkapnya, Kamis (19/4/23)
Farida menjelaskan, posisi puncak gerhana matahari berada di pukul 12.18 dengan durasi sepanjang 2 jam 52 menit sejak proses gerhana matahari dimulai
“untuk waktu lamanya proses gerhana ini selama 2 jam 52 menit dengan puncaknya di jam 12.18 siang” terangnya.
Ia menambahkan, peristiwa alam gerhana matahari bukanlah sesuatu yang spesial apalagi menghubungkan dengan sesuatu yang mistis seperti tahun 80.
Peristiwa ini sudah sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Seperti gerhana matahari tahun 2016, 2019 dan saat ini 2023.
Baca Juga: Viral Jalan Rusak Berlumpur di Cengal, Pemkab OKI Akui Keterbatasan Anggaran Infrastuktur
“ ya gerhana matahari ini adalah sesuat yang ilmiah dan sering terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini.” Tambahnya
Dosen Ilmu falaq dari IAIN Ponorgo menekankan, untuk dapat mengamati gerhana matahari, masuaraat tidak perlu menggunakan teleskop yang cukup mahal didapatkan, menggunakan kacamata film, atau hasil foto ronsen untuk melihat secara langsung.