Poptren.suara.com - Bhima Yudhistira, selaku Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), sepakat dengan Kristalina Georgieva selaku Direktur Pelaksana IMF yang menyatakan prospek ekonomi global gelap akibat meningkatnya risiko resesi dan ketidakstabilan keuangan yang terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah tersalip oleh Filipina dan Vietnam.
Selasa, 11 Oktober 2022, Bhima mengatakan : “Coba dilihat kondisinya, sudah tersalip. Pertumbuhan ekonomi kuartal satu 2022 di Vietnam 5,1 persen dan kuartal dua 7,7 persen. Sedangkan Filipina kuartal dua 2022 pertumbuhan ekonominya 7,4 persen,”.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal dua 2022 mencapai 5,44 persen. Artinya angka ini didapat dari kenaikan nilai produk domestik bruto atas dasar harga konstan (PDB ADHK) Indonesia pada triwulan tersebut dibandingkan perolehan pada triwulan tahun lalu.
Bhima berpendapat kondis ini bukan hanya perbandingan dengan negara lain secara umum, tapi juga ancaman serius. Menjadi ancaman serius karena perbandingan di kawasan ASEAN karena relokasi industri mengincar negara dengan pertumbuhan yang solid.
Bhima : “Vietnam sudah membuktikan pertumbuhannya sudah relatif cukup baik, Filipina juga,”.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) sebelumnya pernah menyatakan ekonomi global berisiko mengalami kerugian US$ 4 triliun pada 2026 akibat resesi. Seiring dengan resesi, IMF telah menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global menjadi hanya 2,9 persen pada 2023.
Kristalina Georgieva mengatakan prospek ekonomi global gelap akibat meningkatnya risiko resesi dan ketidakstabilan keuangan. Tidak hanya itu, setelah Covid-19, kini dunia menghadapi ancaman krisis karena invasi Rusia ke Ukraina dan bencana lantaran perubahan iklim.
Dikutip dari Reuters, Kristalina Georgieva : "Kami mengalami perubahan mendasar dalam ekonomi global, dari dunia yang relatif mudah diprediksi ke dunia dengan lebih banyak kerapuhan, ketidakpastian yang lebih besar, volatilitas ekonomi yang lebih tinggi, konfrontasi geopolitik, dan bencana alam yang lebih sering dan menghancurkan,".
Dengan demikian, IMF terus menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya. Bahkan sudah penurunan keempat kalinya di tahun ini. Untuk 2022, IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,2 persen.
Baca Juga: 28 Negara Antre 'Pertolongan' IMF, Jokowi: Kita Harus Optimis, Tapi Hati-hati
Diperkirakan negara-negara maju dengan keuangan terkuat, seperti Eropa, Cina, hingga Amerika Serikat, pertumbuhan ekonominya melambat karena kondisi ini mengurangi permintaan terhadap ekspor sehingga berdampak memukul negara-negara berkembang yang sudah tertekan oleh harga pangan dan energi.
Georgieva memperkirakan negara-negara yang menyumbang sekitar sepertiga dari ekonomi global akan mengalami setidaknya dua kuartal berturut-turut di tahun ini atau tahun depan.
Georgieva : "Bahkan ketika pertumbuhan positif, itu akan terasa seperti resesi karena pendapatan riil menyusut dan harga naik,”.