Poptren.suara.com - Merespons rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat 65 poin atau 0,41 persen ke posisi Rp15.673 per USD dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.738 per USD.
Tim Riset Monex Investindo Futures menuturkan bahwa dolar AS jatuh setelah laporan nonfarm payrolls (NFP) AS untuk Oktober menunjukkan ekonomi terbesar dunia itu menciptakan lebih banyak pekerjaan baru dari yang diharapkan. Sekaligus menunjukkan tanda-tanda perlambatan dengan tingkat pengangguran yang lebih tinggi dan inflasi upah yang lebih rendah.
Setelah data dirilis, nilai dolar AS alami kenaikkan. Tapi kemudian justru turun karena pelaku pasar mencerna laporan pekerjaan, tercatat data tidak semuanya positif. Mendukung pandangan The Federal Reserve dapat memperlambat laju kenaikan suku bunga pada masa depan.
Laporan ketenagakerjaan nonpertanian atau NFP AS pada bulan sebelumnya meningkat sebanyak 261 ribu. Revisi data September menunujukkan 315 ribu pekerjaan ditambahkan. Padahal data sebelumnya tercatat 263 ribu.
Berdasarkan survei Reuters, ekonom telah memperkirakan 200 ribu pekerjaan. Diperkiraan mulai dari 120 ribu hingga 300 ribu, namun tingkat pengangguran Negeri Paman Sam naik menjadi 3,7 persen dari 3,5 persen pada September.
Penghasilan rata-rata per jam meningkat 0,4 persen setelah pada September naik 0,3 persen. Kenaikan upah melambat menjadi 4,7 persen secara tahunan pada Oktober setelah naik lima persen pada September.
Jumat, 4 November, rupiah ditutup. Dengan melemah 43 poin atau 0,27 persen ke posisi Rp15.738 per USD dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp15.695 per USD.