4. Burung Takahe
![Burung Takahe [Bryan J. Smith/Flickr]](https://media.suara.com/suara-partners/poptren/thumbs/1200x675/2023/02/07/1-48262310347-32ffafff0d-c.jpg)
Takahe adalah spesies burung endemik dari Selandia Baru yang memiliki nama ilmiah Porphyrio hochstetteri. Mereka dikenal dengan sayap pendek dan kaki besar, serta memiliki warna bulu hijau tua dan biru. Takahe awalnya dikira telah punah pada abad ke-20, tetapi kemudian ditemukan lagi pada tahun 1948.
Saat ini, populasi takahe terbatas dan terus dalam bahaya karena habitat alam yang semakin terbatas dan ancaman dari predator seperti kelinci. Konservasi berfokus untuk melindungi spesies ini dan memperluas populasinya.
5. Ikan Purba Coelacanth
![Ikan purba Coelacanth [smerikal/Flickr]](https://media.suara.com/suara-partners/poptren/thumbs/1200x675/2023/02/07/1-6227540478-d542a58855-c.jpg)
Coelacanth adalah spesies ikan yang langka dan sangat bersejarah. Mereka dikenal sebagai “fosil hidup” karena mereka sangat mirip dengan ikan purba yang tercatat dalam fosil selama 400 juta tahun. Coelacanth pertama kali ditemukan pada tahun 1938 dan dianggap telah punah sejak era dinosaurus.
Penemuan mereka mengubah pandangan ilmiah tentang evolusi ikan dan membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut tentang spesies yang selamat hingga saat ini. Coelacanth saat ini hanya ditemukan di perairan sekitar pulau-pulau Afrika timur dan perairan Sulawesi.
6. Serangga Tongkat
![Serangga Tongkat [Wikimedia Commons/Granitethighs/CC BY-SA 3.0]](https://media.suara.com/suara-partners/poptren/thumbs/1200x675/2023/02/07/1-1024px-lord-howe-island-stick-insect-dryococelus-australis-10june2011-palmnursery.jpeg)
Serangga tongkat langka dari Pulau Lord Howe di Australia, boleh dibilang bangkit dari kematian. Sempat disangka punah sekitar tahun 1930-an, kemudian pada tahun 2017 berkat pengujian DNA terbaru, serangga yang dijuluki sebagai lobster pohon (Phasmatodea) itu kembali ditemukan.
Lobster pohon memiliki tubuh sepanjang hampir 15 cm berwarna cokelat kehitaman dengan perut kokoh dan enam kaki panjang.
Penurunan populasi besar-besaran pada spesies ini bermula ketika sebuah sebuah kapal karam di perairan dekat Pulau Lord Howe. Selain awak kabin, kapal itu juga mengangkut segerombolan tikus yang dengan cepat menginvasi pulau tersebut.
Sayangnya, tak adanya mamalia besar yang memangsa tikus membuat populasi hewan pengerat itu pun melonjak dan menghabiskan habitat serangga lobster pohon dan beberapa spesies burung.
Pada 2001, para peneliti kembali pulau itu dan menemukan spesimen hidup yang tampak seperti serangga tongkat Pulau Lord Howe. Serangga tersebut kemudian dikumpulkan dan dibawa ke penangkaran di Kebun Binatang Melbourne.
Baca Juga: Coba Sebutkan Hewan Apa Saja yang Pertama Kali Kamu Lihat?
7. Monyet wol ekor kuning
![Monyet wol ekor kuning [palmoildetectives.com]](https://media.suara.com/suara-partners/poptren/thumbs/1200x675/2023/02/07/1-peruvian-yellow-tailed-woolly-mo.jpg)
Monkey with a golden-tailed woolly monkey adalah spesies monyet berbulu ekor kuning yang dan memiliki warna bulu abu-abu kecoklatan. Mereka hidup di hutan hujan tropis Peru dan termasuk dalam jenis monyet yang memiliki bulu seperti wol (Lagothrix).
Monyet wol ekor kuning sangat jarang dan terancam punah karena deforestasi dan perburuan ilegal. Bahkan spesies ini pernah dianggap punah. Namun beberapa dekade kemudian kemunculannya memantik para peneliti yang kemudian berfokus pada konservasi primata ini.
Beberapa lembaga ekosistem bahkan melindungi habitat alam mereka dan memperluas populasi melalui program re-introduksi di alam liar.