alexametrics

Memanfaatkan Musik untuk Menyebarkan Nilai-Nilai Pancasila ke Generasi Milenial

Ferry Noviandi
Memanfaatkan Musik untuk Menyebarkan Nilai-Nilai Pancasila ke Generasi Milenial
Acara Bedah Musik Kebangsaan yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasution IPB University, Bogor pada 13 Oktober 2021. [dokumentasi pribadi]

Di acara ini, salah satu lagu kebangsaan yang dibedah adalah "Bangun Pemudi Pemuda Indonesia" yang Afred Simanjuntak.

Suara.com - Nilai-nilai Pancasila memang harus ditanamkan ke pada setiap orang sejak dini. Namun agar nilai-nilai itu diterima lebih mudah ke kaum milenial, caranya pun harus sesuai zaman.

"Dulu orang mengenal Pancasila dengan doktrin seperti hafalan dan pelajaran konstitusi. Tapi kalau diajarkan seperti lagi, generasi milenial bisa tidur," ujar Plt Sektretaris Utama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Dr Karjono.

BPIP kemudian menggelar acara bertajuk "Bedah Musik Kebangsaan sebagai Sosialisasi Nilai-Nilai Pancasila Lewat Musik 2021. Acara yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasution IPB University, Bogor pada 13 Oktober lalu ini juga terselenggara atas kerja sama dengan Indonesia Care dan Sinergy Foundation.

Acara Bedah Musik Kebangsaan yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasution IPB University, Bogor pada 13 Oktober 2021. [dokumentasi pribadi]
Acara Bedah Musik Kebangsaan yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasution IPB University, Bogor pada 13 Oktober 2021. [dokumentasi pribadi]

Selain musik, mensosialisakan Pancasila juga bisa dilakukan dengan sejumlah hal. Misalnya dengan kuliner, kesenian, atau film. Medium dianggap lebih mudah untuk diterima oleh milenial.

"Lewat bedah musik ini, ada beberapa hal yang diharapkan kepada para pemuda. Yakni, ingat Pancasila sebagai perjanjian bangsa, ingat Bhineka Tunggal Ika, ingat NKRI, dan ingat UUD 1945. Intinya ini harus kita pegang teguh," imbuh Karjono.

Dalam acara bedah musik itu sendiri, salah satu lagu kebangsaan yang dibedah adalah "Bangun Pemudi Pemuda Indonesia", oleh Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia, yang juga pembangun Sinergy Foundation.

Menurut Ahmad Doli, lagu karya Alfred Simanjuntak itu dibuat pada 1943. Penggunaan kata Indonesia pada lagu ini merupakan bagian dari resonansi semangat kebangsaan Sumpah Pemuda 1928.

Aara Bedah Musik Kebangsaan dalam rangka Sosialisasi Nilai-Nilai Pancasila yang digagas oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) digelar di Auditorium Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kamis Banten (23/9/2021). [dokumentasi pribadi]
Aara Bedah Musik Kebangsaan dalam rangka Sosialisasi Nilai-Nilai Pancasila yang digagas oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) digelar di Auditorium Kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kamis Banten (23/9/2021). [dokumentasi pribadi]

Doli kemudian menyebut sejumlah musisi yang memiliki idealisme tetang Pancasila seperti Pay Burman dan Ari Lasso. Menurut Doli, Pay dan Ari sadar bahwa musik bisa menjadi alat propaganda yang sangat ampuh.

"Sejauh ini mereka musisi tapi idealismenya soal Pancasila tak perlu diragukan. Bagi mereka musik harus menjadi alat propaganda," katanya.

Alhasil, Sinergy Foundation dan Indonesia Care bekerja sama dengan membuat album lagu-lagu bertema kebangsaan. Ada lima lagu bertema kebangsaan dan empat lagu nasional yang didaur ulang.

"Musik harus menjadi bahasa universal untuk mengenalkan Indonesia. Sebisa mungkin kita masuki gaya dan keinginan tren anak-anak muda sekarang," tutur Doli.