Suara.com - Setiap memasuki bulan Ramadhan 1443 H, muncul pertanyaan klasik di kalangan ibu hamil dan menyusui seperti, apakah bisa tetap berpuasa dan bagaimana dampaknya bagi kesehatan janin ibu hamil serta bayi yang sedang menyusui?
Menurut dua pakar kedokteran, yaitu Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi MKK dan dr. Febriansyah Darus, SpOG(K), ibu hamil dan menyusui, pada prinsipnya bisa berpuasa selama kondisi umumnya terkontrol dan tidak memiliki masalah klinis serius yang sedang dimonitor oleh dokter atau bidan.
Melalui Instagram live di akun @ray.w.basrowi bertajuk “Ibu Hamil dan Menyusui, Bisakah Puasa?”, pakar kedokteran kerja dan praktisi industri nutrisi, Ray Wagiu Basrowi mengatakan, ibu menyusui memang harus dipikirkan secara matang, terutama untuk ibu menyusui dalam periode ASI eksklusif 6 bulan pertama. Dalam enam bulan pertama, ASI merupakan makanan utama dan satu-satunya bagi bayi, sehingga kualitas ASI serta volume ASI harus tetap terjaga.

“Yang perlu dilakukan adalah memastikan status hidrasi atau kecukupan cairan. Ini penting, karena komposisi utama yang dominan dalam ASI adalah air. Selain itu, biasanya ibu menyusui akan cenderung merasa mudah haus, setelah menyusui atau memompa ASI,” tambah Ray.
Bagi ibu pekerja, tantangan menyusui sambil berpuasa juga menjadi semakin berat. Beberapa hasil penelitian observasi okupasional juga mengungkapkan, ibu pekerja yang menyusui dan berpuasa justru mengalami beberapa keluhan terkait stamina kerja, terutama pada kalangan pekerja buruh perempuan.
“Para ibu perlu mempertimbangkan potensi dehidrasi yang mempengaruhi volume ASI yang mungkin saja terganggu. Dampak ini bisa menggagalkan perolehan ASI eksklusif yang dibutuhkan. Jadi memang dikembalikan sesuai kemampuan ibu dan konsultasi dengan dokter atau bidan,” ungkap Ray, yang merupakan Medical Science Director Danone Indonesia.
Menurutnya, untuk kondisi seperti ini, sebaiknya yang diprioritaskan adalah program menyusui lebih dahulu, mengingat puasa dapat diganti di lain kesempatan, dengan berbagai macam bentuk ibadah pengganti puasa yang diizinkan.
“Cukup menguras energi jika menyusui sambil berpuasa. Selain membutuhkan ion tubuh seimbang, risiko dehidrasi dan kelelahan jika bayi masih di bawah enam bulan ASI masih on-demand, jadi bisa saja tengah malam sebelum sahur tidak istirahat, terus harus bangun menyiapkan sahur, salat subuh dan pagi harus kerja lagi. Memang tantangan ibu pekerja yang menyusui untuk berpuasa sangat berat. Kembalikan lagi ke ibunya,” saran dokter yang memiliki lebih dari 20 ribu followers ini.
Sementara untuk ibu hamil, Dr. Febri menyarankan, di trimester pertama atau usia 1-3 bulan harus lebih berhati-hati dan terlebih dahulu konsultasi dengan dokter kandungan atau bidan.
“Yang pasti, ada kondisi yang tidak disarankan berpuasa, yaitu ibu hamil yang mengalami gejala emesis atau mual dan muntah yang berat, atau yang terdeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin," ujar Febri, yang merupakan dokter kandungan di RSPAD Gatot Subroto.
Kedua dokter tersebut sepakat menyatakan, berdasarkan banyak bukti klinis, baik ibu hamil maupun ibu menyusui, dalam kondisi apapun tetap wajib kontrol teratur ke tenaga kesehatan.
Untuk ibu hamil, pemantauan kondisi kehamilan dengan pemeriksaan kehamilan (antenatal care) teratur wajib untuk memastikan keselamatan ibu dan janin, serta kesiapan untuk melahirkan dengan baik, dan selama menyusui penting untuk memaksimalkan kondisi hidrasi dan nutrisi ibu.