Kominfo Berikan Pelatihan Atasi Sindrom FOMO dengan JOMO pada Anak-anak Maluku-Papua

Iman Firmansyah Suara.Com
Rabu, 10 Agustus 2022 | 18:30 WIB
Kominfo Berikan Pelatihan Atasi Sindrom FOMO dengan JOMO pada Anak-anak Maluku-Papua
Ilustrasi Anak Fomo (Freepik/Freepik)

Suara.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan pelatihan pada generasi muda Papua - Maluku tentang FOMO (Fear of Missing Out) sebagai sindrom sosial jaman now, Senin (8/8/2022).

Pelatihan ini dilakukan secara virtual dan diikuti para peserta dari Ternate, Sorong, Jayapura, dan Maluku dengan nonton bareng di sekolah masing-masing di jam 10.00 - 12.00 WIT.

Diikuti lebih dari 200 peserta, pelatihan ini menghadirkan Operation Director TC Invest, M Dedi Gunawan, SH.,MH, Podcaster at 30 Degree Media Network, Fajar Sidik  dan Digital Content Creator, Putri Masyita.

Mereka menjabarkan tentang sudut pandang dari kecakapan, budaya, dan etika tentang FOMO sebagai sindrom sosial jaman now. Sindrom sosial jaman now, lebih mengarah ke mental “takut ketinggalan” atau lebih sering kita kenal dengan FOMO. Di era masyarakat, itu menjadi suatu tekanan secara tidak langsung yang mereka rasakan. Dasarnya, trigger utama mereka adalah sosial media. Dimana, pencapaian dan previllege orang lain seumuran mereka diatas mereka.

Sampai Januari 2022, tercatat lebih dari 191juta pengguna sosial media. Data tersebut menggabarkan seberapa besar pengaruh sosial media dalam kehidupan keseharian mereka, khususnya di rentan umur 16-25 tahun.

Dedi Gunawan menjelaskan, FOMO sendiri sebenernya terjadi berdasarkan beberapa alasan utama. “Budaya Komunikasi Digital Indonesia, kemudahan berkomunikasi di era digital, dan pengguna media sosial adalah alasan mendasar penyebab FOMO,” jelas Dedi.

Ia juga menjelaskan bahwa ada beberapa pemicu FOMO itu terjadi dan memberikan dampak pada generasi muda. Diantaranya trend, dan postingan sosial media. “Trend fashion, skincare, make up, barang-barang unik, dan beragam informasi serta beragam pencapaian dan keberhasilan masyarakat seumuran yang di posting di sosial media. Menjadi pemicu utama FOMO itu berdampak pada generasi muda,” ungkap Dedi.

“FOMO sendiri memiliki beberapa karakteristik, diantaranya seperti under-influence seperti anak yang kecendrungan dengan gadget dan beragam teknologi, being always connected yakni perasaan yang perlu diakui dan diterima disegala macam lapisan sosial, dan digital intuitiveness yang mana semacam mampu memprediksi apa yang akan jadi trend di ranah digital nantinya,” tambahnya.

Putri Masyita dalam paparannya, menuturkan bahwa untuk mengatasi dan mengurangi FOMO baiknya kita fokus pada diri sendiri, membatasi penggunaan media sosial dan gadget, mencari koneksi nyata yang jelas impact -nya untuk kehidupan kita, dan lebih menghargai diri sendiri.

Baca Juga: Cegah Kejahatan Siber, Warganet Disarankan Lindungi Perangkat Digital

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI