Flash Latte Art Championship, Ajang Gali Talenta Barista Muda dan Berbakat

Vania Rossa
Flash Latte Art Championship, Ajang Gali Talenta Barista Muda dan Berbakat
ilustrasi latte art (Pexels.com)

Kompetisi ini diselenggarakan untuk menyambut Hari Kopi Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Oktober.

Suara.com - Flash Coffee, jaringan kedai kopi yang sedang naik daun di Indonesia, menyelenggarakan kompetisi FLASH LAC (Latte Art Championship) untuk para barista muda dan berbakat.

Kompetisi ini diselenggarakan untuk menyambut Hari Kopi Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Oktober ini dimaksudkan sebagai ajang pencarian talenta baru yang bisa terus memajukan skena perkopian nusantara.

“Bagi barista muda profesional yang belum pernah ikut kejuaran seni latte sebelumnya, Flash LAC bisa jadi ajang batu lompatan untuk menguji kemampuan dan kepercayaan diri. Dari ajang ini mereka juga bisa mendapatkan masukan berharga dari dewan juri yang sudah melanglang buana di berbagai kejuaraan tingkat nasional maupun internasional,” kata Maxime Chaury, Managing Director Flash Coffee Indonesia.

“Kultur kopi di Indonesia terlihat semakin kuat dalam beberapa tahun terakhir. Lewat ajang FLASH LAC, kami harap komunitas barista Indonesia jadi semakin maju dan masyarakat umum pun jadi terpancing untuk tahu lebih banyak tentang dunia perkopian,” kata Robby Firlian, Head Barista Flash Coffee.

Terdapat dua puluh empat kontestan dalam kejuaran ini. Delapan belas peserta adalah pemenang audisi yang dilakukan secara daring oleh para juri, di mana calon kontestan ditantang untuk mendokumentasikan keahliannya dalam membuat secangkir latte art dan diunggah ke media sosial. Sementara enam peserta lain merupakan pemenang kompetisi latte art internal Flash Coffee.

Babak pertama 1 vs 1 Basic Pattern Battle, di mana peserta diadu untuk membuat pola dasar seni latte. Dua belas pemenang terbaik berhak melaju ke babak kedua 1 vs 1 Pattern From Juries Battle, dimana mereka akan saling berhadapan untuk menirukan pattern seni latte yang dibuat oleh dewan juri. Enam pemenang tersisa akan bertarung dalam babak final yaitu Free Pouring Final Battle, dimana para kontestan harus membawa foto pola seni latte mereka sendiri dan membuat pola tersebut seakurat mungkin.

Ada lima poin penilaian juri dalam perlombaan ini; pertama, harmoni dan posisi pola di dalam cangkir. Pola dalam ukuran yang sempurna sesuai dengan cangkir dan tepat berada di tengah. Kedua, kualitas visual foam yang halus, mengkilap, berkilau, dan tanpa gelembung. Ketiga, kontras antara berbagai bahan. Pola harus tegas dan bersih serta semakin baik jika lebih banyak white foam dan cream lebih gelap. Keempat, kemiripan pola. Dan kelima, kreatifitas pola yang diukur dari segi kesulitan, orisinalitas, dan keunikan.

Karya para kontestan akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Robby Firlian, Head Barista Flash Coffee dan juga pemenang Indonesia Latte Art Championship 2018. Lalu ada Iwan Setiawan, pemenang Indonesia Latte Art Championship 2014 dan 2015, dan telah mengantongi Certified Judges Indonesian Coffee Event 2017 dan 2018. Terakhir adalah Pujiyanto dari komunitas Barista Indonesia yang pernah menjuarai lomba seni latte yang diselenggarakan sejumlah merk produsen alat kopi.