Perjuangan Isa Ansori kini membuahkan hasil. Saat ini, ada 78 titik sumber mata air yang ia selamatkan mampu memenuhi kebutuhan warga di tiga desa, yakni Mendelem, Beluk dan Belik.
“Ada 60 persen sudah tercukupi kebutuhan air. Airnya mengalir untuk tiga desa yakni Mendelem, Beluk dan Belik. Harapannya mampu mencukupi air 100 persen,” harapnya.
Baginya, hutan, gunung beserta fungsinya bukan warisan, melainkan titipan yang sudah selayaknya dijaga dan dilestarikan untuk tetap berfungsi dengan baik.
Sementara Ketua Komunitas Pecinta Alam Shabawana, Eka Waluyo menuturkan, Isa Ansori merupakan figur orang tua, senior dan pembimbing yang menginspirasi generasi muda saat ini untuk tetap melestarikan lingkungan hidup.
Tak heran, jika pria kelahiran 1 Mei 1964 itu beberapa kali mendapat penghargaan terkait lingkungan hidup. Terakhir ia menyabet Penghargaan Kalpataru sebagai perintis, pengabdi, penyelamat dan pembina lingkungan hidup 2022 oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.