Mengenal Plombir, STNK Sepeda Angin Peninggalan Kolonial Belanda yang Jaya di Masanya

Purwokerto

Minggu, 06 November 2022 | 09:20 WIB
Mengenal Plombir, STNK Sepeda Angin Peninggalan Kolonial Belanda yang Jaya di Masanya
(Facebook Kota Solo)

PURWOKERTO.SUARA.COM – Razia Plombir jadi hal yang sering ditemui zaman kamari saat sepeda angin mendominasi jalanan negeri ini. Apa itu Plombir, ini penjelasannya.  

Pada masa kolonial sepeda angin menjadi barang mewah yang keberadaanya bisa menghasilkan cuan untuk pendapatan negara. Bahkan sangking mewahnya barang ini, pada masa itu pemangku kebijakan membebankan pajak tahunan yang diberikan untuk setiap sepeda yang ada di jalanan  Hindia-Belanda (sekarang. Indonesia).

Kala itu belum ada pabrikan asli di Hindia-Belanda yang membuat sepeda ini. Sehingga rerata sepeda yang beredar di masyarakat merupakan buatan dari Belanda dan Inggris. Medio inilah dua Negara tersebut menjadi produsen guna memenuhi pasar sepeda hingga menjadi barang mewah yang populer pada masanya.

Sehingga dirasa umum jika waktu itu pembebanan pajak dijadikan upaya untuk mengatur persebaran kendaran ini dengan aturan penarikan iuran. Meski bukti untuk mereka yang sudah membayar iuran bentuknya tidak seperti kertas STNK sepeda motor pada zaman kiwari. Namun fungsi dan perannya hampir serupa. 

Paling mencolok perbedaanya dengan STNK ialah, Plombir ini wajib di tempel dan tidak boleh hanya di simpan di saku saja atau di dompet. Tentu konsep ini yang membuatnya terlihat jalas oleh petugas pemeriksa Plombir saat sepeda ini melintas tanpa ada tandanya. Kala itu, polisi sering melakukan razia untuk mengecek Plombir dan jika melanggar akan kena denda

Setali tiga uang, pada masa itu juga setiap sepeda angin yang terkena razia petugas setelah mendapat tilang akan disidangkan di pengadilan rendah. Tempat ini serupa dengan sidang tilang di pengadilanpada zaman sekarang bagi para pelanggar peraturan lalu-lintas.

Hal inilah yang membuat Plombir memiliki peran fital nan krusial utamanya dalam mengatur kepemilikan barang mewah di masanya termasuk sepeda. Bahkan dengan cara inilah Negara mengenal cara menghasilkan pendapatan lewat  barang yang dimiliki masyarakatnya dengan sebutan pajak.

Secara etimologi Plombir berasal dari akar kata plombe dari Bahasa Belanda yang berarti iuran. Di beberapa tempat ada juga yang menyebutnya istilah ini Peneng yang secara etimologi juga dari akar kata Penning yang juga berarti iuran. Kala itu sepeda yang sudah membayar iurab akan diberi tanda yang disebut Plombir ini agar ditempel di bagian bodi sepeda dibawah stang.

Tentu konsep yang digunakan mirip TNKB pada kendaraan masa kini, bedanya di dalam Plombir yang berasal dari lempengan logam sejenis timah yang  terdapat tulisan tahun berlakunya dengan font angka besar, serta mencantumkan wilayah yang mengeluarkan tanda tersebut sebagai legalitas iuran yang sudah dibayarkan oleh warganya.

Tiap kendaraan yang ditempeli Plombir pun ternyata bentuknya memiliki pola yang berbeda-beda. Pola ini mengikuti dari wilayah yang mengeluarkannya dan mendasarkan juga pada jenis kendaraan yang dibebankan iuran. Kemiripannya dengan STNK, Plombir yang sudah ditempel di sepeda juga berlaku hanya untuk satu tahun dan harus diganti dengan plombir yang baru pada tahun berikutnya.

Pasca kemerdekaan RI di tahun 1945, ternyata aturan ini masih tetap diberlakukan bahkan bertahan hingga medio 1990-an. Simbah saya di Kabupaten Banyuwangi masih menjumpai aturan pajak sepeda ini dan digunakan untuk penarikan iuran agar warga bisa tetap taat pajak dengan membayar Plombir ke pemerintah Orde Baru kala itu.

Bahkan lokasi langganan yang digunakan oleh petugas saat ada di Banyuwangi ialah Pasar Induk yang sering digunakan warga untuk beraktifitas harian. Pasar-pasar besar macam Pasar Blambangan, Genteng hingga Muncar menjadi titik lokasi pemeriksaan petugas untuk mengecek Plombir ini.

Pun yang namanya warga tetap ada cara untuk mengelabuhi petugas agar tidak terkena denda berlipat ganda. Cara yang dilakukan Simbah saya salah satunya dengan memotong Plombir menjadi dua keping untuk ditempel di dua sepeda yang berbeda. Saat petugas memeriksa alasannya ada saja, mulai dari yang rusak dengan sendirinya hingga alasan pernah tertabrak dan Plombir yang dari timah itu rusak. 

Meski kadang tidak masuk akal namun ternyata cara tersebut cukup sukses dilakukan oleh warga untuk bisa mengelabuhi petugas. Pun di Banyuwangi besaran nominal Plombir pada Orde Baru memiliki nilai ekonomis yang berbeda merek dan jenis sepeda manjadi penentunya dengan besaran hargamulai Rp 50 hingga Rp 250.  

Pun setelah 30-an tahun aturan Plombir ini tidak diberlakukan lagi di Indonesia, pangsa pasarnya tetap menjadi potensi cuan yang diburu oleh kolektor sepeda antik. Tentu Plombir asli ya gaes yang keluar di masanya, bukan barang tiruan yang baru dibuat dan dijual lapak-lapak online sekitar kalian.*(ANIK AS)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Simsalabim, Purbalingga Bikin Motor Listrik Dalam Dua Bulan

Simsalabim, Purbalingga Bikin Motor Listrik Dalam Dua Bulan

Purwokerto | Selasa, 27 September 2022 | 16:18 WIB

Rekomendasi 4 Lokasi Favorit Mountain Bike, Trek Menantang dengan Pemandangan Menawan

Rekomendasi 4 Lokasi Favorit Mountain Bike, Trek Menantang dengan Pemandangan Menawan

Purwokerto | Rabu, 10 Agustus 2022 | 21:07 WIB

Yang Lagi Tren, Sepeda Roda Tinggi Ternyata Diproduksi di Purbalingga

Yang Lagi Tren, Sepeda Roda Tinggi Ternyata Diproduksi di Purbalingga

Purwokerto | Senin, 27 Juni 2022 | 10:23 WIB

Terkini

Butuh Rp667 T Tapi Hanya Dipatok Rp139 T, Menhan Usulkan Tambahan Anggaran Rp195 T ke DPR untuk 2027

Butuh Rp667 T Tapi Hanya Dipatok Rp139 T, Menhan Usulkan Tambahan Anggaran Rp195 T ke DPR untuk 2027

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:05 WIB

Prabowo Ungkap Target Besar Kesehatan Nasional, 350 Rumah Sakit Akan Dimodernisasi

Prabowo Ungkap Target Besar Kesehatan Nasional, 350 Rumah Sakit Akan Dimodernisasi

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:05 WIB

Konservasi atau Pertumbuhan Ekonomi? Penelitian Ungkap Kita Tak Harus PIlih Salah Satu

Konservasi atau Pertumbuhan Ekonomi? Penelitian Ungkap Kita Tak Harus PIlih Salah Satu

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:05 WIB

Dollar Meroket, Menkeu Purbaya Ramal Rupiah Sentuh di Rp16.000-17.500 di 2027

Dollar Meroket, Menkeu Purbaya Ramal Rupiah Sentuh di Rp16.000-17.500 di 2027

Video | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:03 WIB

After the Hunt: Dialog Filosofis tentang Moralitas dan Dinamika Generasi

After the Hunt: Dialog Filosofis tentang Moralitas dan Dinamika Generasi

Your Say | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:00 WIB

Profil Tuan Rumah Piala Dunia 2026: Meksiko, Panggung Kehormatan Ketiga El Tri

Profil Tuan Rumah Piala Dunia 2026: Meksiko, Panggung Kehormatan Ketiga El Tri

Bola | Rabu, 10 Juni 2026 | 15:00 WIB

Musisi Therry Mully Meninggal Dunia, Andien Kenang Sosoknya dan Akui Jadi Fans Berat Grup Jingga

Musisi Therry Mully Meninggal Dunia, Andien Kenang Sosoknya dan Akui Jadi Fans Berat Grup Jingga

Entertainment | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:59 WIB

Plt Gubri Janji Perbaiki Jalan Pekanbaru-Siak Sebelum Lebaran, Buktinya Masih Rusak

Plt Gubri Janji Perbaiki Jalan Pekanbaru-Siak Sebelum Lebaran, Buktinya Masih Rusak

Riau | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:58 WIB

Stok BBM di SPBU BP, Vivo dan Shell Langka setelah Pertamina Naikkan Harga

Stok BBM di SPBU BP, Vivo dan Shell Langka setelah Pertamina Naikkan Harga

Bisnis | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:58 WIB

Daftar Mobil yang Masih Boleh Pakai Pertalite, Tak Perlu Khawatir Pertamax Naik

Daftar Mobil yang Masih Boleh Pakai Pertalite, Tak Perlu Khawatir Pertamax Naik

Otomotif | Rabu, 10 Juni 2026 | 14:58 WIB