PURWOKERTO.SUARA.COM – Hari ini Pengadilan Negeri Surabaya mulai menyidangkan kasus Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada awal Oktober 2022 lalu.
Bertempat di Ruang Cakra Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (09/02/2023) Erryga Angga Romadhon anggota Samapta Polres Malang, menceritakan detik-detik situasi mencekam amukan suporter hingga dia dan truk berisi para korban Aremania yang dikemudikannya berhasil lolos sampai rumah sakit.
Untuk mengingat kembali peristiwa mematikan 1 Oktober 2022 lalu, 135 nyawa dinyatakan meninggal dan ratusan lainnya luka-luka usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya.
Ia menyaksikan sendiri kericuhan Tragedi Kanjuruhan usai wasit meniup peluit panjang. Dimulai dari tugasnya sesuai rencana awal, mengamankan evakuasi para pemain Persebaya dan Arema FC dari tengah lapangan ke ruang ganti.
Menurut Erryga aksi awal kekecewaan suporter mulai ia lihat ketika Aremania merangsek masuk ke lapangan dan merangkul kiper Arema yang masih belum dievakuasi.
“Izin menambahkan (keterangan Afandi, saksi anggota Polri yang diperiksa hari ini), saat pemain masuk ke locker room ada ketinggalan kiper Arema di tengah lapangan yang dikerumuni suporter,” kata Erryga, dikutip Antara. Kamis, (09/02/2023).
Ia melihat Kasat Samapta lari ke lapangan untuk mengamankan kipper, padahal itu inisiatifnya dan Kasat Samapta tidak pakai tameng. Erryga pun membantu menyelamatkan Maringga (kiper Arema) dibackup kasat samapta akhirnya masuk ke locker room.
Hingga situasi berhasil dikondisikan, semua pemain sudah masuk ke ruang ganti. Situasi semakin kacau, suporter melakukan pelemparan-pelemparan barang hingga melukai beberapa anggota Samapta.
Sampai akhirnya ia mendapat perintah dari AKP Bambang Sidik Achmadi eks Kasat Samapta Polres Malang untuk siaga mengemudikan truk.
Ia diminta mengantarkan korban-korban yang sudah tergeletak ke rumah sakit. Melewati ribuan suporter lain yang sedang marah hingga membakar kendaraan-kendaraan milik aparat di jalanan area stadion.
“Saya diminta stand by di dalam truk. Saya driver truk. Kemudian saya persiapkan terus maju ke depan, berhenti dulu turun lagi,” ujarnya memberi kesaksian.
Erryga pun melihat Kapolres, Wakapolres membantu Aremania memasukkan korban ke truk aparat. Ia yang sendirian saat itu juga membantu polisi yang membawa korban.
“Saya saat itu kondisinya takut mati yang mulia,” katanya.
Tak ada yang bisa ia lakukan selain terus melaju meski ketakutan. Dengan puluhan korban yang ia tak bisa memastikan meninggal atau pingsan di bak truk, serta dua korban yang masih sadar duduk di samping kirinya, Erryga menginjak pedal gas.
Setelah semua korban naik ke truk, ia bersama dua orang yang diangkut mencoba melaju pelan-pelan hingga akhirnya dihentikan Aremania.
“Saya berhenti. Posisi kaca saya kanan tertutup, kiri separuh. Pak, nunut (numpang), pak, ada korban. Lalu lanjut lagi ketemu lah dengan Kabag Ops, Kasat Samapta, yang lagi menyeterilkan jalan,” imbuhnya.
Ia sudah pasrah jika harus meninggal di tangan para suporter. Namun Erryga tetap berusaha menyelamatkan para korban agar bisa segera tertolong ke rumah sakit.
Perjuangannya masih belum usai. Baru beberapa meter jalan, di depan ia sudah menjumpai kendaraan aparat yang dibakar dengan kobaran api. Ada celah jalan yang masih bisa dilalui, ia ambil. Namun, lagi-lagi, kaca truknya dilempari paving oleh suporter. Pecah seluruhnya seketika.
Tinggal helm yang masih ia kenakan untuk menyelamatkannya. Hingga akhirnya ia berhasil lolos dari amukan suporter dan keluar stadion. Meski kedatangannya sempat ditolak hingga ke rumah sakit kedua karena kondisi full pasien.
Tragedi Kanjuruhan terjadi pada 1 Oktober 2022 pascapertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tercatat sebanyak 135 orang meninggal dunia dan 583 orang lainnya cedera dalam tragedi ini.***