"Ini bermakna pembersihan diri menjelang bulan suci," kata dia.
Tradisi ruwatan ini berjalan turun-temurun dari generasi ke generasi hingga hari ini. Owabong mengemasnya dalam kerangka pertunjukan untuk menghibur pengunjung.
Pada perayaan HUT ke-18 Owabong, diselenggarakan pawai budaya. Ada pertunjukan tari, peragaan kostum unik dan narasi sejarah Owabong yang dimulai dari lapangan Desa Bojongsari hingga ke Owabong.
Sesampainya di Owabong, prosesi ruwatan dimulai. Tiga gadis yang masih lajang sebagai simbol dari tiga mata air didaulat mengambil mata air di Sendang Tirta Panguripan, yaitu kolam mata air kehidupan.
Mata air ini lalu ditampung menjadi sstu dalam kendi warna emas di panggung utama. Tetua adat setempat kemudian merapalkan mantra-mantra di atas kendi tersebut.
Mereka yang percaya keberkahan mata air yang dirapali mantra ini mengantre untuk mendapatkan sesiwur air untuk membasuh muka dan kepala. Antrean pun dimulai dari Plt Direktur Owabong diikuti staf dan warga setempat.
"Ini bukan amalan agama, ini hanya tradisi," ujar Ki Anom.
Selain menjadi upacara tradisi, momen ruwatan ini juga memberi suguhan berbeda bagi pengunjung Owabong yang membeludak hari itu. Sebab, tak setiap saat pengunjung bisa menikmati sajian kearifan lokal seperti ini.***
Baca Juga: Erick Thohir Upayakan Selaraskan Agenda PSSI dengan Jadwal AFC