purwokerto

Mengupas Flexing dari Kacamata Psikologi, 4 Hal Ini yang Bikin Salah Kaprah : Nomor Tiga Tidak Terduga

Purwokerto Suara.Com
Minggu, 09 April 2023 | 14:44 WIB
Mengupas Flexing dari Kacamata Psikologi, 4 Hal Ini yang Bikin Salah Kaprah : Nomor Tiga Tidak Terduga
Mario Dandy Satrio Menggunakan Kendaraan Pribadi. ((Foto. Instagram @__broden))

2. Butuh Eksistensi

Individu yang kerap flexing ternyata memiliki kebutuhan besar akan pengakuan atau eksistensi diri. Kebutuhan ini baru akan dipenuhi ketika orang lain terkagum-kagum, memuji dan sudah mengakui sesuatu yang dimilikinya.

Pengakuan orang lain ini bagi pelaku flexing akan dirasakan sebagai penerimaan orang lain terhadap dirinya. Oleh karena itu, mereka harus menunjukkan sesuatu yang 'wow' atau berbeda dari biasanya. Seperti pamer harta kekayaannya atau keberuntungan yang tidak dimiliki orang lain.

3. Kurang Empati

Orang yang gemar membual, termasuk melakukan flexing, tidak menyadari bahwa banyak orang tidak nyaman dan terganggu dengan tindakan mereka. 

Hal ini terjadi karena para pembual kurang bisa berempati. Mereka sangat sulit menempatkan diri di posisi orang lain yang tidak seberuntung dirinya. Mereka berpikiran, dengan pamer dan menyombongkan diri akan membuat orang lain terkesan, padahal tidak.

Banyak  orang cenderung tidak menyukai individu dengan profil berlebihan, termasuk pamer harta dan kesuksesan.

Sebuah riset di jurnal Social Psychological and Personality Science, mengungkapkan bahwa kebanyakan orang justru lebih suka berteman dengan orang yang biasa-biasa saja, dibandingkan dengan individu yang gemar flexing. 

Hasil studi tersebut menegaskan bahwa perspektif orang lain sangat berbeda dengan apa yang dipikirkan pelaku flexing. Tindakan pamer pencapaian dan harta tidak membuat orang lain terkesan.

Baca Juga: Jadwal One Way, Contra Flow dan Ganjil Genap Arus Mudik Lebaran 2023

4. Menutupi Perasaan Rendah Diri

Profesor Emerita, Dr. Susan Whitbourne dari Psychological and Brain Sciences, University of Massachusetts, di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pada dasarnya, flexing disebabkan adanya perasaan tidak aman dan rendah diri. 

Sebab perasaan tidak aman dan rendah diri tersebut, pembual atau pelaku flexing merasa butuh validasi atau diakui oleh orang lain. Caranya dengan menunjukkan pencapaian, prestasi, dan harta mereka,” jelasnya.

Tindakan membual dilakukan guna meyakinkan diri sendiri bahwa mereka baik-baik saja. Tindakan flexing dilakukan juga untuk menutupi rasa tidak percaya diri atau minder terhadap diri sendiri. 

Semua hal di atas dilakukan oleh pelaku flexing karena mereka merasa ada yang kurang dan ada hal yang mereka tidak miliki, lalu mereka menutupinya dengan cara flexing, pamer harta dengan cara yang berlebihan.***

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI