PURWOKERTO.SUARA.COM, BANYUMAS - Jawa punya kekayaan tradisi kuliner yang melipah. Jejaknya tersebar di berbagai pelosok daerah, salah satunya di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Di Purwokerto ada sebuah warung makan yang masih setia menyuguhkan menu-menu khas nusantara. Warung ini hanya berjarak 2,3 Km dari Alun-alun Kota Purwokerto atau cukup ditempuh dalam 5 menit mengunakan kendaraan bermotor.
Salah satu menu yang menjadi favorit di warung makan ini adalah menu yang menjadi suguhan para bangsawan di masa lalu. Menu para bangsawan tentu memiliki nilai yang tinggi, entah karena citarasanya atau kandungan gizinya.
Dan benar saja, menu yang satu ini memang kaya akaan bumbu dari bahan rempah-rempah nusantara. Rempah pada masa lalu seperti emas yang menjadi buruan bangsa barat.
Rempah ini diramu dalam proporsi yang pas dan dipadukan dengan santan dari kelapa segar. Terbayang aroma rempah menyatu dengan gurihnya santan segar nan kental.
Cita rasa menu ini semakin kuat dengan hadirnya irisan belimbing wuluh dan cabai rawit yang dibiaran utuh. Citarasa gurih nan harum kemudian dipertemukan dengan asam dan pedas. Hmm..nyummy banget gasih?
Dan semua bumbu itu dibiarkan meresap ke dalam daging ayam kampung yang dibungkus daun pisang. Bungusan daun pisang ini kemudian dikukus hingga tekstru daging lembut dan lepas dari dengrakam tulang belulangnya.
Ya, inilah Garang Asem, menu nusantara kesukaan para bangsawan pada masa lalu. Menu ini kini bisa dinikmati siapa saja di warung makan Jawa Khas Purwokerto. yang tak kalah penting, harga menu ini masih terjangkau di kantong kelas menengah.
Lokasinya ada di Jalan Brigjen Encung No. 25 Purwokerto. Lebih mudahnya, dari UIN Saizu Purwokerto ke utara hingga perempatan, lalu belok ke kanan ke Jl Brigjen Encung. Sekitar 300 meter di kanan jalan ada papan Warung Nasi Jawa Khas Purwokerto.
Sejarah Garang Asem
Ada dua cerita mengenai asal mula nama Garang Asem ini. Pertama, Garang Asem dipercaya diambil dari nama desa di Kudus yaitu Desa Garang. Karena inilah Garang Asem banyak dijumpai di Kudus dan sekitarnya.
Kedua, dinamakan Garang Asem karena makanan tersebut memiliki citarasa pedas (garang) dan asam (asem). Pedas dari cabe rawit yang dibiarkan utuh, penikmat bisa menghancurleburkan cabe jika ingin rasa peda ekstra dan membiarkanya utuh jika tidak ingin terlalu pedas.
Sementara rasa asam tentu dari belimbing wuluh yang memang rasanya asam. Belimbing diiris sehingga ra asamnya keluar mewarnai cita rasa Garang Asem.
Dulunya, Garang Asem merupakan makanan mewah untuk kalangan bangsawan. Hal tersebut karena daging ayam kampung yang harganya mahal sehingga masyarakat dimasalalu tak membeli atau membuat Garang Asem.