PURWOKERTO.SUARA.COM, PURBALINGGA - Moderasi beragama adalah jalan untuk membentuk masyarakat yang moderat, masyarakat jauh dari radikalisme. Forum Keberagaman Umat Beragama (FKUB) Purbalingga menggelar sosialisasi sekolah moderasi bagi siswa siswi SMA-SMK-MA Kabupaten Purbalingga, di SMA Negeri 1 Kutasari, Rabu 27 September 2023.
Kegiatan sosialisasi sekolah moderasi ini dihadiri oleh perwakilan siswa-siswi SMA Negeri 1 Kutasari, SMK Negeri 1 Kutasari dan SMK Negeri 1 Bojongsari. Narasumber yang datang adalah perwakilan dari forum keberagaman umat beragama (FKUB) yaitu, Bapak Pendeta Bagus imam cahyono, S. TH dan Bapak Muakhor Abdu Salam, S. Si.
Ibu Kurnianingsih selaku ibu kepala SMA Negeri 1 Kutasari memberikan sedikit sambutan untuk memulai acara sosialisasi sekolah moderasi ini.
"Alhamdulillah, hari ini kita bisa mengikuti kegiatan yang luar biasa, yaitu sosialisasi sekolah moderasi, saya juga mengucapkan terimakasih kepada forum keberagaman umat beragama kabupaten Purbalingga yang telah berkenan menggelar kegiatan ini di SMA Negeri 1 Kutasari," kata Ibu Kurnianingsih.
"Anak-anaku, Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan budaya, tradisi, suku, keyakinan, bahasa, dan masih banyak lagi," lanjutnya.
"Jadi anak-anak, mulailah pada kesempatan yang berbahagia ini kita belajar bersama para narasumber hebat dari FKUB, Kabupaten Purbalingga, mengenai moderasi keberagaman," imbuhnya.
Melanjutkan acara, Bapak Pendeta Bagus Imam Cahyo selaku narasumber pertama mulai menyampaikan materi tentang Kepancasilaan dan apa hubungannya dengan keberagaman agama di Indonesia.
Beliau menjelaskan tentang tantangan yang kita hadapi dalam beragama yaitu teknologi. Pemakaian sosial media ini sudah hampir mencapai 125% pengguna. Dan bahayanya masyarakat Indonesia masuk kedalam jajaran yang suka internet. Sebagai buktinya semua manusia tidak bisa lepas dari teknologi, contohnya seperti HP. Teknologi ini dapat membantu manusia untuk mengembangkan diri dan memajukan diri tetapi jangan sampai melupakan dasar negara kita yaitu Pancasila.
Kemudian bapak Pendeta menjelaskan mengenai hubungan Pancasila dengan keberagaman agama. Yang pertama adalah sila pertama, yang berbunyi "Ketuhanan yang maha Esa".
"Kenapa kita harus berketuhanan?" Tanyanya.
"Karena di Indonesia itu banyak keberagaman agamanya atau kepercayaan," jawabnya.
Yang kedua, beliau menjelaskan tentang sila kedua, yang berbunyi "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab". Bapak Bagus menjelaskan bahwa ia yakin semua agama atau kepercayaan pasti mengajarkan kebaikan kepada umat-umatnya.
Beliau juga menjelaskan sila ketiga Pancasila, yang berbunyi "Persatuan Indonesia".
"Inti dari sila keempat adalah musyawarah, dengan adanya musyawarah akan terbentuknya interaksi. Interaksi tersebut akan membuat kita mampu mewujudkan kerukunan, kesatuan dan persatuan. Sehingga munculah sila yang kelima," jelas Bapak Bagus terhadap sila keempat.
Terakhir, beliau menjelaskan tentang Pancasila sila kelima, yang berbunyi "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia".