Selebtek.suara.com - Lord Rangga atau Rangga Sasana, mantan petinggi Sunda Empire, dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Mutiara Bunda Tanjung Brebes, pada Rabu (7/12/2022) pukul 05.39 pagi hari.
Penyebab kematian Lord Rangga belum diketahui secara pasti, namun berdasarkan keterangan orang yang kenal dengannya, pria yang berpenampilan khas dengan topi baretnya ini meninggal dunia karena sakit.
"Iya (meninggal)," kata Saiful Hadi, tetangga Lord Rangga yang merupakan warga Desa Grinting, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah.
Lord Rangga sendiri merupakan sosok kontroversial karena pernah membuat heboh Tanah Air usai mendirikan Sunda Empire.
Akibat perbuatannya tersebut, Lord Rangga sempat mendekam di penjara. Kerajaan Sunda yang didirikannya dianggap menyebarkan berita bohong dan menimbulkan keonaran.
Lord Rangga akhirnya bebas pada 13 April 2021.
![Lord Rangga [Instagram/@lordranggaofficial]](https://media.suara.com/suara-partners/selebtek/thumbs/1200x675/2022/12/07/1-aksi-lord-rangga-yang-kerap-dinilai-halu-pasca-runtuhnya-sunda-empire-instagram-at-lordranggaofficial.jpg)
Ramalan Lord Rangga yang terbukti
Semasa hidupnya, Lord Rangga juga pernah membuat beberapa prediksi yang terbukti menjadi kenyataan, meski awalnya dianggap lelucon dan halu.
Akun Twitter @tvindonesiawkwk bahkan menyebut Lord Rangga sebagai peramal handal.
1. Lord Rangga pernah 'memprediksi' bahwa Bos Microsoft Bill Gates dan Jack Ma mengundurkan diri.
Pernyataan tersebut dilontarkan Lord Rangga di acara Indonesia Lawyers Club pada Januari 2020 silam.
"Sunda Empire memiliki sebuah sistem di antara sistem-sistem atau raja-raja sistem yang ada di bumi. Maka Bill Gates mengundurkan diri, maka Jack Ma mengundurkan diri," kata Lord Rangga.
Dua bulan setelah pernyataan Lord Rangga tersebut, Bill Gates Mundur dari Dewan Direksi Microsoft, tepatnya pada Maret 2020.
Selanjutnya, dikabarkan pula Jack Ma resmi mengundurkan diri dari Dewan Direksi SoftBank pada Mei 2020.
2. Perang dunia ketiga dan serangan Rusia ke Ukraina
Dalam sebuah wawancaranya di hadapan para wartawan pada Oktober 2020, Lord Rangga menyebut bahwa dunia harus ditata kembali
"Dunia ini harus ditata kembali dan kita memasuki dunia ketiga. Siapa yang peduli itu nuklir diledakkan sementara istri dan anak mereka diselamatkan. Ada yang berani melawan 10 itu?" ujar Lord Rangga.
Sebelumnya, tidak diketahui apa maksud Lord Rangga menyebut nuklir diledakkan dan ditujukan untuk siapa "10 itu".
Namun, warganet menghubungkan bahwa itu ditujukan untuk serangan Rusia ke Ukraina. Sementara itu, angka 10 ditujukan pada 10 negara yang mendukung Rusia jika invasi menjadi perang dunia ketiga.
3. Invasi Rusia ke Ukraina
Pada Oktober 2021, Lord Rangga diundang dalam sebuah podcastdan membuat pernyataannya soal nuklir. Hal itu kembali dihubungkan dengan peristiwa masa kini, yakni invasi Rusia ke Ukraina.
"Negara-negara yang rame-rame membuat nuklir. Yang masalah parahnya lagi, ini siap untuk diledakkan," ucapnya.
Pernyataannya itu lalu dihubungkan dengan senjata rudal balistik RS-24 Yars yang keluar kandang beriringan dari Teikovo ke Alabino dekat Moskow pada Februari 2022.
4. Pengunduran diri PM Inggris, Boris Johnson
Pengunduran diri Boris Johnson sebagai Perdana Mentri Inggris rupanya sudah diprediksi oleh Lord Rangga sejak 2 tahun lalu.
Saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi, Lord Rangga mengaku bahwa Sunda Empire bersahabat dengan Amerika hingga Belanda. Menurutnya, dalam membangun bangsa tidak cukup bila hanya di internal saja, tetapi posisi tatanan Indonesia juga harus dioerhatikan.
"Semua negara terutama Amerika kita bersahabat, dan Inggris bersahabat semua bersahabat Belanda pun bersahabat," ungkap Lord Rangga.
Kemudian, dia dengan lantang mempertanyakan soal kondisi dunia saat ini, termasuk soal Paul Paulus dan Presiden Bank dunia mengundurkan diri dan PM Inggris mundur.
"Coba simak, dengan kondisi keadaan bangsa ini kenapa kemarin paul Paulus mengundurkan diri, Kenapa presiden Bank Dunia mengundurkan, padahal enak kok. Dan juga kenapa Perdana Menteri Inggris mengundurkan diri. Jadi, persoalan-persoalan ini adalah harus disimak. Karena, membangun bangsa ini tidak cukup hanya melihat persoalan yang ada di internal kita dalam Indonesia," tegasnya.
Boris Johnson mengundurkan diri pada 7 Juli 2022, usai dirinya ditinggalkan para pendukungnya, yaitu para menteri dan anggota parlemen Partai Konservatif.(*)
Sumber: Berbagai sumber