SUARA SEMARANG - Pahami niat sholat tolak bala, doa, dan tata cara, di mana sering diamalkan oleh masyarakat Jawa dalam tradisi Rebo Wekasan, atau peringatan hari Rabu terakhir pad bulan Safar.
Dalam Islam, sholat tolak bala juga disebut dengan shalat sunnah lidaf’il bala, berikut niat, tata cara, dan doa yang bisa diamalkan untuk tradisi Rebo Wekasan, 21 September 2022.
Tradisi Rebo Wekasan biasanya juga diikuti selamatan bagi banyak kalangan masyarakat Jawa, yang lantas perlu diketahui mengenai niat, tata cara, doa sholat tolak bala pada momen ini.
Tradisi Rebo Wekasan ini memang tidak disebutkan langsung dalam Al Quran, namun ada sejarah yang bisa dipahami melalui penjelasan para ulama.
Sebelum itu berikut niat sholat tolak bala, tata cara, dan doa dalam tradisi Rebo Wekasan, melansir Suara.com.
Niat Sholat Tolak Bala
Usholli sunnatal lidaf’il balaa rokatainii lillaahi ta’ala
Artinya : Aku berniat shalat menghilangkan bala dua raka’at sunnat karena Allah SWT
Tata Cara Sholat Tolak Bala
Tata Cara Sholat Tolak Bala
Baca Juga: Diduga Selingkuh, Foto Reza Arap di Instagram Wendy Hanya Tersisa Satu Foto
Shalat tolak bala dilaksanakan empat rakaat dan dua kali salam. Berikut tata cara mendirikan shalat tolak bala:
Membaca niat shalat lidaf’I bala
Pada saat Rakaat pertama membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Kautsar sebanyak 17x.
Pada rakaat kedua, membaca surat Al-Fatihah kemudian dilanjutkan membaca surat Al-Ikhlas 5x.
Rakaat selanjutnya membaca surat Al-Fatihah kemudian dilanjutkan dengna membaca surat Al-Falaq sebanyak 1x.
Kemudian pada rakaat terakhir membaca surat Al-Fatihah yang dilanjutkan dengan surat An-Nas sebanyak 1x.
Doa Tolak Bala
Allahumma bihaqqil faatihah wasirril faatihah ya faarijal hammi wa yaa kaasyifal ghammi ya man lli ibaadihii yaghfiru wayarham. Yaa daafi’al bala’i yaa Allah wa yaa daafi’al bala’i yaa rahmaan wa yaa daafi’al balaa’i yaa rahiim.
Artinya: “Ya Allah, dengan kebenaran fatihah dan dengan rahasia yang terkandung dalam fatihah, ya Allah Tuhan yang melapangkan kedudukan dan yang menghilangkan kesedihan,"
"Ya Allah Tuhan yang maha kasih sayang kepada hambanya, Ya Allah, Tuhan Yang menghindarkan bala,"
"Ya Allah Tuhan pengasih yang menolakkan bala, Ya Allah Tuhan yang maha penyayang yang menjauhkan bala, tolakan lah dari kami malapetaka, bala, bencana, kekejian dan kemungkaran,"
Doa tolak bala lainnya juga terdapat dalam hadist berikut:
Allaahumma innii a'uudzu bika minal barashi, wal junni, wal judzaami, wa sayyi'il asqaami.
Artinya: "Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan dari keburukan segala segala macam penyakit." (HR Abu Daud nomor 1554 dan Ahmad).
Lebih jauh, memang tidak salah jika tradisi itu dilakukan dengan niat meminta perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai bentuk marabahay.
Namun nyatanya, tidak ada hadist ataupun ayat Al Quran yang berhubungan dengan Rebo Wekasan atau pun hari Rabu terakhir bulan Safar.
Setelah ditelusuri, narasi tentang banyaknya penyakit dan bencana yang terjadi saat Rebo Wekasan itu salah satunya berasal dari ulama ahli Kasyf. Diriwayatkan dalam buku Kanzun Najah Was-Suraar fi Fadail al-Azmina Wasy-Syuhaar, Imam Abdul Hmiid Quds, Mufti, dan Imam Masjidil Haram Makkah mengatakan:
“Banyak Awliya Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 ribu penderitaan (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.”
Kemudian dari sana, para ulama memerintahkan umatnya untuk melakukan amalan-amalan untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Diantaranya sholat tolak bala.
Penting untuk diketahui bahwa jika niatnya adalah sholat Rebo Wekasan secara khusus, maka hukumnya dilarang karena tidak sesuai Syariat Islam. Namun jika niatnya adalah sholat sunnah mutlaq atau sholat hajat, maka hukumnya boleh dikerjakan.
Sholat sunnah mutlaq adalah sholat yang tidak dibatasi waktu, tidak dibatasi sebab, dan bilangannya tidak terbatas.
Sholat hajat adalah sholat yang dilaksanakan saat memiliki keinginan atau hajat tertentu, termasuk hajat li daf'il makhuf (menolak hal-hal yang dikhawatirkan).
Sebab dalam hadist Nabi Muhammad SAW telah jelas menyebutkan bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial.
“Tidak ada wabah, tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR al-Bukhari) (Badruddin ‘Aini, ‘Umdâtul Qâri Syarhu Shahîhil Bukhâri, [Beirut, Dârul Kutub: 2006], juz IX, halaman 409).
Kemudian Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) juga telah menegaskan:
“Adapun mengkhususkan kesialan dengan suatu zaman tertentu bukan zaman yang lain, seperti (mengkhususkan) bulan Safar atau bulan lainnya, maka hal ini tidak benar.”