Adapun Nama Dieng berasal dari kata Bahasa Kawi: “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna (Dewa).
Dengan begitu, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.
Ada pula teori lain menyatakan, nama Dieng berasal dari bahasa Sunda (“di hyang”) karena diperkirakan pada masa pra Medang (sekitar abad ke-7 Masehi) daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.
Sejarah Budaya
Masih melansir laman BPPI, Kawasan Dataran Tinggi Dieng mempunyai nilai sejarah yang tinggi, di antaranya berdirinya candi-candi di wilayah itu.
Banyak peninggalan arkeologi berupa candi-candi yang tersebar, seperti Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Sembadra, Gatotkaca dan lain-lain.
Candi Arjuna terletak di tengah kawasan Candi Dieng, terdiri dari 4 empat candi yang berderet memanjang arah utara-selatan.
Candi Arjuna berada di ujung selatan, kemudian berturut-turut ke arah utara adalah Candi Srikandi, Candi Sembadra dan Candi Puntadewa.
Baca Juga Dieng Beberapa Kali Diguncang Gempa Bumi, Ganjar Bantu Pengadaan Seismometer
Kemudian tepat di depan Candi Arjuna, terdapat Candi Semar.
Keempat candi di komplek ini menghadap ke barat, kecuali Candi Semar yang menghadap ke Candi Arjuna.
Kelompok candi ini dapat dikatakan yang paling utuh dibandingkan kelompok candi lainnya di kawasan Dieng.
Nilai Budaya
Kawasan Dataran Tinggi Dieng juga masih menyimpan nilai budaya kental yang masih dilangsungkan masyarakatnya hingga sekarang.
Salah satunya pemotongan rambut gimbal, biasanya pada momen Dieng Culture Festival setiap tahunnya.
Di sisi kesenian ada atraksi seni budaya yang sampai saat ini masih banyak ditemui antara lain Tari Lengger, Tari Rampak Yaksa.