SUARA SEMARANG -- Media officer Madura United menjadi korban pengeroyokan oknum tak dikenal. Kejadian ini pun dilaporkan ke operator liga dan pihak berwajib.
Pengeroyokan tersebut terjadi usai Madura United bertanding melawan PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Minggu (24/9).
Usai pertandingan dengan hasil imbang 1-1, pihak Madura United yang terdiri dari pelatih, pemain serta officer menghadiri post match press conference.
Konferensi pers yang dilaksanakan di salah satu ruang yang disediakan di Stadion Maguwoharjo ini sesuai kewajiban dalam regulasi.
Hanya pihak-pihak berkepentingan dengan kartu identitas jelas (ID Card) saja yang diperkenankan untuk mengikuti agenda kegiatan pertandingan tersebut.
Namun, saat konferensi pers dimulai, sekelompok oknum tanpa ID Card masuk ke dalam ruangan.
Dalam video yang dibagikan melalui akun media sosial Madura United, oknum tersebut menggunakan celana jeans biru muda, berjaket hitam, tas selempang kecil hitam, topi hitam serta masker hitam sebagai penutup wajah.
Oknum berpenutup wajah ini dengan agresif mendatangi meja preskon, tempat di mana pelatih dan pemain Madura United duduk.
Media officer Madura United, Ferdiansyah Alifurrahman lantas mengambil tindakan preventif, menghentikan konferensi pers serta meminta pelatih dan pemain segera bergeser ke ruang ganti.
Baca Juga: PSIS Semarang Didenda Rp150 Juta Gara-Gara Oknum Suporter
Setelah pelatih dan pemain keluar ruangan tersebut, media officer yang masih tertinggal justru menjadi korban.
Ia dibekap, didorong dan diseret oleh oknum lain ke arah pintu masuk pemain. Di sana, media officer Madura United dikeroyok oleh para oknum tersebut.
Beruntung, ia dapat meloloskan diri, ditolong petugas internal dan diberi perawatan di ruang medis.
Terkait hal tersebut, melalui akun media sosialnya, Madura United mengutuh keras kejadian tersebut.
"Stadion seharusnya menjadi tempat yang ramah bagi semua orang terutama kedua tim yang bertanding," kata Manager Tim Madura United, Umar Wachdin dikutip dari media sosial Madura United.
Terlebih, lanjutnya, kejadian tersebut terjadi di ruang media conference yang seharusnya menjadi ruang terbatas untuk personil yang terdaftar.