Wayan Getarika, Mantan Anggota Pasukan Tameng, Algojo Pembantai PKI di Tanah Buleleng

Serang

Jum'at, 30 September 2022 | 23:11 WIB
Wayan Getarika, Mantan Anggota Pasukan Tameng, Algojo Pembantai PKI di Tanah Buleleng
Potrait Wayan Getarika, 65th sebelum melakukan aktivitasnya pekerjaannya sebagai penggali kubur di Desa Bengkala, Buleleng, Bali, Jumat (12/10/2018). (Kurniawan Mas'ud)

Sejak 1 Desember 1965, Rumah-rumah yang sudah ditandai sebagai kader atau simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) diserbu, satu per satu penghuninya diseret keluar, kemudian dipukuli beramai-ramai dan dibunuh dengan keji. Tragedi  berdarah ini berlangsung selama satu tahun, yakni tahun 1965 sampai 1966.


Saat itu pulau Bali terasa amat mencekam. Aksi pembantaian itu tak lagi hanya menyasar kepada para kader maupun relawan Partai Komunis Indonesia (PKI), tapi juga menyasar kepda mereka yang dianggap musuh yang dicurigai oleh orang-orang sekitarnya. Dan bahkan, agar peristiwa pembantaian itu terkesan tampak religius, dilaksanakanlah sebuah ritual yang disebut mereka "Nyupat".


Ditambah lagi pasca kedatangan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ke Bali, sehingga pembantaian itu terjadi hampir merata di seluruh tanah Pulau Dewata. "Jumlah yang dibunuh di Bali itu sangat besar, mencapai 5 persen dari populasi. Lebih dari 100 ribu orang tewas dibantai," ujar penulis buku 'Nasib Para Soekarnois' Aju, dikutip dari merdeka.com tahun 2015.

Potrait Wayan Getarika, 65th bersama sahabat Koloknya saat melakukan aktivitasnya pekerjaannya sebagai penggali kubur di Desa Bengkala, Buleleng, Bali, Jumat (12/10/2018). [Kurniawan Mas'ud]
Potrait Wayan Getarika, 65th bersama sahabat Koloknya saat melakukan aktivitasnya pekerjaannya sebagai penggali kubur di Desa Bengkala, Buleleng, Bali, Jumat (12/10/2018). (sumber: Kurniawan Mas'ud)

Bahkan saat itu, para algojo-algojo atau kelompok para penjagal bermunculan sebagai eksekutor pembunuh orang-orang yang dianggap berafiliasi dengan partai berlambang Palu Arit PKI.


Di tanah Bali, kelompok algojo itu disebut Pasukan Tameng, para anggotanya dikenal sadis dan tak kenal ampun. Jika ingin lolos dari mereka, maka keluarga yang sudah menjadi target 'pembersihan' itu mesti merelakan anak-anak gadis mereka untuk disetubuhi.


Pun bagi mereka yang punya dendam dengan kelompok tertentu, meskipun bukan simpatisan PKI, maka mereka bisa melaporkan dan mencap lawannya sebagai PKI kepada para Pasukan Tameng.


Wayan Getarika (65) adalah satu diantara para anggota Pasukan Tameng itu. Ia adalah sang Penjagal. Eksekutor lapangan yang mencabut banyak nyawa anggota dan simpatisan yang terlibat Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau yang lebih dikenal dengan G30S PKI di daerah Buleleng, Bali Utara.

Wayan Getarika adalah seorang Kolok (pengidap bisu+tuli). Penjagalan yang ia lakukan kala itu semata-mata hanyalah untuk bertahan hidup, "demi bisa makan", ujarnya seraya mengangkat jemari tangannya ke arah mulut sebagai bahasa isyarat di sela menjawab pertanyaan saya waktu itu.

Potrait Wayan Getarika, 65th bersama para sahabat Koloknya melakukan aktivitasnya pekerjaannya sebagai penggali kubur di Desa Bengkala, Buleleng, Bali, Jumat (12/10/2018). [Kurniawan Mas'ud]
Potrait Wayan Getarika, 65th bersama para sahabat Koloknya melakukan aktivitasnya pekerjaannya sebagai penggali kubur di Desa Bengkala, Buleleng, Bali, Jumat (12/10/2018). (sumber: Kurniawan Mas'ud)

Sebagai seorang Kolok (Difabel), tak mudah bagi Wayan Getarika mendapat pekerjaan yang layak, ia 4 bersaudara, 2 diantaranya yang masih hidup hingga kini adalah Kolok (bisu-tuli). Hidup dalam keluarga yang terhimpit dengan persoalan ekonomi.

baca juga


Wayan muda adalah seorang preman kampung, tak memiliki pekerjaan, kadang bekerja serabutan, hidup di jalanan, apalagi mengenyam pendidikan. Tak heran jika mudah terpengaruh dan menawarkan diri menjadi Pasukan Tameng, karena hanya dengan cara itu yang bisa ia lakukan, demi mendapat makan dan demi untuk bertahan hidup.

Wayan hanyalah pekerja serabutan, menjadi preman dan hidup di jalanan. Maka tak heran jika Wayan muda mudah terpengaruh dan terlibat menjadi Pasukan Tameng, yang penting hari itu ia bisa makan!


Kini, Wayan Getarika mendarmakan dirinya sebagai seorang penggali kubur dengan upah beberapa ratus ribu, uang hasil kerjanya itu akan ia bagi-bagi bersama beberapa orang teman Kolok lainnya yang ikut membantu di desa Bengkala.


“Mungkin itu karma yang mereka dapat,” tulis Aju dalam buku ‘Nasib Para Soekarnois’.

Foto & Teks : Kurniawan Mas'ud

Konten Kreator dan Fotografer lepas peraih penghargaan Anugerah Adiwarta 2012 dan Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2017. Beberapa karyanya pernah dimuat di Time, Bloomberg, The Guardian, Tempo dan National Geographic Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Cerita Horor Kuburan Massal Korban G30S PKI Dekat Tol Trans Jawa di Semarang: Penampakan Wanita Berlubang Cekikikan

Cerita Horor Kuburan Massal Korban G30S PKI Dekat Tol Trans Jawa di Semarang: Penampakan Wanita Berlubang Cekikikan

Semarang | Jum'at, 30 September 2022 | 21:30 WIB

Analisa Pakar: Demokrat Merasa Dipecundangi, SBY Turun Gunung Cari Kambing Hitam

Analisa Pakar: Demokrat Merasa Dipecundangi, SBY Turun Gunung Cari Kambing Hitam

Serang | Jum'at, 30 September 2022 | 20:57 WIB

Cerita 137 Tahanan PKI Mempawah yang Diselimuti Wajah Ketakutan

Cerita 137 Tahanan PKI Mempawah yang Diselimuti Wajah Ketakutan

Kalbar | Jum'at, 30 September 2022 | 20:35 WIB

Deretan Fakta Film G 30 S PKI, Biaya Produksi  Capai Rp800 Juta di Tahun 1982

Deretan Fakta Film G 30 S PKI, Biaya Produksi Capai Rp800 Juta di Tahun 1982

Video | Jum'at, 30 September 2022 | 20:00 WIB

Hutan Plumbon Semarang dan Kisah Saksi Bisu Kuburan Massal Korban G30S/PKI

Hutan Plumbon Semarang dan Kisah Saksi Bisu Kuburan Massal Korban G30S/PKI

Jawa Tengah | Jum'at, 30 September 2022 | 19:04 WIB

Napak Tilas Lubang Buaya Cemetuk, Tempat PKI Mengeksekusi 62 Ansor di Banyuwangi

Napak Tilas Lubang Buaya Cemetuk, Tempat PKI Mengeksekusi 62 Ansor di Banyuwangi

Malang | Jum'at, 30 September 2022 | 15:46 WIB

Deretan Fakta Lubang Buaya dan Kaitannya dengan G30S PKI dan Propaganda Politik

Deretan Fakta Lubang Buaya dan Kaitannya dengan G30S PKI dan Propaganda Politik

Video | Jum'at, 30 September 2022 | 16:00 WIB

Koalisi NasDem, PKS dan Demokrat sudah 80 persen, Tinggal Tentukan Capres-Cawapres

Koalisi NasDem, PKS dan Demokrat sudah 80 persen, Tinggal Tentukan Capres-Cawapres

Serang | Kamis, 29 September 2022 | 14:05 WIB

Puan Maharani Bagi-Bagi Kaos, Netizen: 'Kok seperti tidak tulus ya'

Puan Maharani Bagi-Bagi Kaos, Netizen: 'Kok seperti tidak tulus ya'

Serang | Selasa, 27 September 2022 | 15:28 WIB

Survei Capres 2024: Elektabilitas Anies Baswedan Anjlok Jelang Lengser

Survei Capres 2024: Elektabilitas Anies Baswedan Anjlok Jelang Lengser

Serang | Selasa, 27 September 2022 | 04:45 WIB

Terkini

7 Dekorasi Dinding yang Baik untuk Energi Positif di Ruang Tamu Menurut Feng Shui

7 Dekorasi Dinding yang Baik untuk Energi Positif di Ruang Tamu Menurut Feng Shui

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Imbas Kericuhan Demo DPR, Sejumlah Transportasi Umum Alami Penyesuaian Rute

Imbas Kericuhan Demo DPR, Sejumlah Transportasi Umum Alami Penyesuaian Rute

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:31 WIB

Kabut Asap Makin Pekat di Palembang, Kota Mulai Berselimut Kelabu

Kabut Asap Makin Pekat di Palembang, Kota Mulai Berselimut Kelabu

Foto | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Rakyat Jaga Rakyat: Ketika Solidaritas Lebih Cepat Datang daripada Negara

Rakyat Jaga Rakyat: Ketika Solidaritas Lebih Cepat Datang daripada Negara

Your Say | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Hortikultura Daerah Naik Kelas, Melon Petani Asal Blitar Tembus Pasar Singapura

Hortikultura Daerah Naik Kelas, Melon Petani Asal Blitar Tembus Pasar Singapura

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:26 WIB

Ketika AI Bisa Memutuskan Transaksi Sendiri, Siapa yang Bertanggung Jawab Jika Terjadi Kerugian?

Ketika AI Bisa Memutuskan Transaksi Sendiri, Siapa yang Bertanggung Jawab Jika Terjadi Kerugian?

Tekno | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:19 WIB

Siapa Saja? Ini 3 Zodiak yang Diprediksi Ketiban Rezeki Sepanjang September 2026

Siapa Saja? Ini 3 Zodiak yang Diprediksi Ketiban Rezeki Sepanjang September 2026

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:13 WIB

Uang Palsu Rp36 M Bukan Sekadar Kerugian, Akademisi: Bisa Gerus Kepercayaan Publik terhadap Rupiah

Uang Palsu Rp36 M Bukan Sekadar Kerugian, Akademisi: Bisa Gerus Kepercayaan Publik terhadap Rupiah

Jogja | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:10 WIB

5 Cara Membersihkan Noda di Celana Jeans, Perhatikan agar Tidak Merusak Warna

5 Cara Membersihkan Noda di Celana Jeans, Perhatikan agar Tidak Merusak Warna

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Sampah Pasar Malam Sekaten Menumpuk di Alun-alun Kidul Keraton Solo

Sampah Pasar Malam Sekaten Menumpuk di Alun-alun Kidul Keraton Solo

Surakarta | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:01 WIB

×