- Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari pasca serangan di Kuwait pada 28 Mei 2026.
- Kesepakatan tersebut kini tinggal menunggu persetujuan resmi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk dapat segera diimplementasikan.
- Upaya perdamaian ini bertujuan meredakan eskalasi konflik serta membuka peluang negosiasi ulang terkait program nuklir milik pemerintah Iran.
Suara.com - Di tengah kecemasan global akibat insiden saling serang yang baru saja pecah, Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan garis besar untuk memperpanjang masa gencatan senjata mereka.
Menurut laporan eksklusif dari media Axios, kelanjutan dari traktat damai sementara ini sekarang tinggal menunggu lampu hijau dan persetujuan resmi dari Presiden AS Donald Trump.
Konsensus krusial ini tercapai hanya beberapa jam setelah Iran meluncurkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Kuwait pada Kamis (28/5/2026).
Seiring kesepakatan mendadak ini, harga minyak stabil di angka USD 85 sementara minyak Brent masih bertahan di USD 94 per barel.
Aksi tersebut merupakan respons Teheran atas serangan udara Pentagon terhadap fasilitas stasiun kendali kendali jarak jauh yang dituding Washington sebagai pusat operasi pesawat tanpa awak (drone) Iran.
Berdasarkan dokumen nota kesepahaman (MoU) yang disepakati kedua belah pihak, AS dan Iran setuju untuk menghentikan kontak senjata selama 60 hari ke depan.
Periode ini sengaja dialokasikan sebagai modal awal guna membuka kembali pintu negosiasi terkait program nuklir Iran. Kendati demikian, implementasi rencana ini masih sepenuhnya bergantung pada penandatanganan akhir oleh Donald Trump.
Merespons kabar meredanya tensi di Timur Tengah tersebut, grafik harga minyak mentah dunia langsung berbalik arah dan bergerak melemah di lantai bursa komoditas.
Meskipun skala pertempuran terbaru ini terbilang terbatas, insiden ini menggarisbawahi betapa rapuhnya proses diplomasi yang tengah berjalan.
Upaya untuk mengubah gencatan senjata awal April menjadi kesepakatan damai permanen terus dibayangi ketidakpastian. Padahal, kepastian damai sangat dibutuhkan demi mengakhiri perang tiga bulan yang telah merenggut ribuan nyawa serta membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (US Central Command) merilis kronologi resmi yang menyatakan bahwa pasukannya berhasil melumpuhkan lima unit drone tempur Iran dan menghancurkan sebuah stasiun kontrol darat di kota pelabuhan Bandar Abbas saat bersiap meluncurkan drone keenam.
Pasca-insiden tersebut, militer Kuwait dilaporkan berhasil mencegat sebuah rudal balistik yang diarahkan ke wilayah mereka, yang juga menjadi rumah bagi pangkalan militer besar AS.
"Tindakan ini terukur, murni bersifat defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata," ungkap seorang pejabat tinggi AS kepada Reuters.
Di kubu berseberangan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa pangkalan militer AS di Kuwait sengaja dibidik karena fasilitas itulah yang bertanggung jawab atas serangan udara dini hari di dekat Bandara Bandar Abbas.
Melalui laporan kantor berita Tasnim, IRGC memperingatkan bahwa setiap tindakan serupa di masa depan akan memicu balasan yang jauh lebih mematikan.
Pemerintah Kuwait sendiri langsung mengutuk keras serangan rudal tersebut dan mendesak Teheran untuk segera menghentikan apa yang mereka sebut sebagai eskalasi konflik yang serius.
Gelombang kekerasan terbaru ini bertepatan dengan momentum perayaan Hari Raya Idul Adha di seantero Timur Tengah. Konflik regional ini berakar dari serangan gabungan yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang kemudian menyeret banyak negara ke dalam pusaran perang.
Pakistan, yang bertindak sebagai mediator utama, terus bergerak cepat untuk mengamankan perdamaian. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, dijadwalkan terbang ke Washington pada hari Jumat untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, meskipun signifikansi dari kunjungan mendadak ini belum mendetail.