Menyelesaikan konflik Papua di Indonesia tidak sama dengan menuntaskan kasus konflik di Aceh. Sebab, Organisasi Papua Merdeka (OPM) terdiri atas faksi, baik dalam maupun luar negeri. Ada juga faksi OPM dalam politik termasuk bersenjata yang berada di kawasan pegunungan Papua.
Masih kata Maroef Sjamsoeddin, masing-masing dari mereka memiliki panglima tidak satu komando.
"Faksi ini jumlahnya ada 13 kalau tidak salah, ada faksi bersenjata dan tnpb opm, dan masing-masing wilayah atau kabupaten itu ada komandan mereka. Ada juga yang individual dan belum tentu mereka adalah panglima," jelasnya.
Ini yang kemudian menyulitkan dalam melakukan negosiasi, tidak seperti Aceh.
"Aceh dulunya itu punya tokoh sentral sehingga ada alur dalam melakukan negosiasi, sementara kalau di Papua mau bernegosiasi kepada siapa? karena tidak ada tokoh sentral yang jadi panutan mereka," ungkapnya. [*]