Serang.suara.com - Pada tahun 2023, umat Hindu di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Galungan dengan khidmat dan penuh suka cita. Tradisi ini tidak hanya sebagai bentuk kepercayaan dan pengabdian kepada Tuhan, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkokoh nilai-nilai keagamaan, harmoni sosial, dan persatuan.
Di tengah gencarnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial, banyak tradisi dan upacara agama yang tetap dijaga keasliannya oleh umatnya.
Salah satu contoh yang kental dengan nilai-nilai keagamaan adalah Hari Raya Galungan bagi umat Hindu. Pada tahun 2023, tradisi ini masih tetap dijalankan dan penuh makna bagi umat Hindu di seluruh dunia.
Hari Raya Galungan merupakan salah satu upacara paling penting dalam kalender liturgi Hindu, dirayakan setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari sekali (kira-kira enam bulan dalam penanggalan masehi).
Perayaan ini jatuh pada tanggal 2 Agustus 2023, mengikuti sistem penanggalan Hindu, dan dirayakan oleh umat Hindu terutama di Indonesia yang memiliki komunitas Hindu yang besar, seperti Bali.
Makna dari Hari Raya Galungan memiliki asal-usul dalam mitologi Hindu dan perayaan ini dipercayai sebagai hari kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma).
Dalam mitologi Hindu, Galungan mengenang kemenangan Dharma atas Adharma. Perayaan Hari Raya Galungan dilakukan dalam dua tahap, dimulai dengan "Penampahan Galungan" dan diakhiri dengan "Hari Raya Galungan".
Penampahan Galungan berlangsung dua hari sebelum Hari Raya Galungan, di mana umat Hindu melakukan persiapan untuk menyambut hari besar tersebut.
Mereka mempersiapkan persembahan dan menghias rumah-rumah serta altar keluarga dengan janur (daun kelapa), bunga, dan berbagai macam buah-buahan.
Baca Juga: Rendy Kjaernett dan Lady Nayoan Kecelakaan di Jalan Tol, Begini Kondisinya
Selain itu, umat Hindu juga mengenakan pakaian tradisional dan berpartisipasi dalam prosesi ke pura (kuil) untuk bersembahyang dan berdoa.
Puncak perayaan adalah saat Hari Raya Galungan tiba. Pada hari ini, keluarga berkumpul bersama-sama dan pergi ke pura untuk beribadah.
Persembahan yang sudah dipersiapkan sebelumnya akan diberikan kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan) sebagai wujud rasa syukur dan bhakti. Selain itu, umat Hindu juga mengadakan prosesi perarakan dengan membawa "penjor," yaitu bambu yang dihiasi dengan janur, bunga, dan berbagai hasil bumi sebagai simbol penghormatan kepada Dewa.
Makna dari Hari Raya Galungan tidak hanya berfokus pada aspek mitologis, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosial dan spiritual yang mendalam bagi umat Hindu.
Perayaan ini mengajarkan tentang arti pentingnya kemenangan kebaikan atas kejahatan, pentingnya memelihara harmoni dalam lingkungan sosial, serta arti keluarga dan kebersamaan.
Galungan juga menjadi momen refleksi bagi umat Hindu untuk memperkuat iman dan menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.