SuaraSoreang.id - Perseturuan antara Dedi Mulyadi dan Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika atau Ambu Anne kian memanas di tengah proses perceraiannya.
Ambu Anne dan Dedi Mulyadi kerap kali saling sindir melalui penuturannya pada awak media.
Mulanya, Ambu Anne mengungkap alasannya untuk menggugat cerai Dedi Mulyadi.
Menurut Ambu Anne, Dedi Mulyadi tidak memberikannya nafkah lahir dan batin juga melakukan KDRT psikis.
Namun, Dedi Mulyadi membantah pernyataan Ambu Anne. Dia tak menerima jika disebut tak memberikan nafkah serta melakukan KDRT psikis.
Kemudian, Ambu Anne blak-blakan ungkap jika dirinya harus membayar utang Dedi Mulyadi sebesar Rp28 M ketika sang suami menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Menanggapi hal tersebut, Dedi Mulyadi ungkap sosok dibalik sikap istrinya yang berubah hingga membuatnya melayangkan gugatan cerai.
Menurut Dedi Mulyadi, Ambu Anne merupakan seorang perempuan yang baik. Namun, ia dinilai terlalu mendengarkan kata orang lain.
Ambu Anne, ungkap Kang Dedi Mulyadi, kerap mendengar opini dari orang-orang sekitarnya baik dalam ruang lingkup pemerintahan maupun di luar pemerintahan.
"Mbu orangnya baik tapi arena hatinya sangat terbuka gitu lho kan. Telinga Ambu itu terlalu banyak mendengar dan siapa yang didengar? orang-orang di sekelilingnya gitu lho," kata dia.
Belakangan, Dedi Mulyadi sempat menyindir guru ngaji Ambu Anne yang diduga kuat memberi pengaruh pada Ambu Anne untuk menggugat suaminya.
Dedi Mulyadi juga mengatakan jika Ambu Anne lebih taat pada sang guru ngaji dibanding pada suaminya sendiri.
Terlepas daripada itu, Dedi Mulyadi tidak mengungkapkan sosok guru ngaji Ambu Anne.
"Saya tidak mau nyebut guru ngaji, karena disitu bukan proses belajar mengaji tapi proses bertanya, kalau dalam bahasa sundanya disebutnya 'pananyaan'," ungkap Kang Dedi.
Dia juga membeberkan di mana letak tempat tinggal sosok 'pananyaan' Ambu Anne.