SUARA SOREANG - Calon presiden Ekuador, Fernando Villavicencio, ditembak dan tewas setelah kampanye di Quito.
Tersangka dalam penembakan itu juga tewas setelah baku tembak saat ditangkap.
Lasso mengonfirmasi pembunuhan Villavicencio dan berjanji kejahatan ini tak akan luput hukuman.
Villavicencio, mantan legislator berusia 59 tahun, ditembak mati setelah kampanye di Quito.
Surat kabar utama El Universo melaporkan kandidat tersebut dibunuh "gaya penembak bayaran" dengan tiga tembakan ke kepala.
Video di media sosial menunjukkan Fernando Villavicencio keluar dari kampanye dijaga oleh penjaga.
Dalam rekaman tersebut terlihat Villavicencio masuk truk putih diikuti tembakan.
Dilansir dari Aljazeera, kantor jaksa agung Ekuador kemudian mengumumkan tersangka dalam pembunuhan itu tewas karena luka selama penangkapan.
Sembilan lainnya terluka dalam serangan itu, termasuk kandidat legislatif dan dua polisi.
Baca Juga: Kekecewaan Ayah David Ozora Usai Sidang Tuntutan Mario Dandy dan Shane Lukas Batal Digelar
Patricio Zuquilanda, penasihat kampanye Villavicencio, mengatakan Villavicencio mendapat ancaman kematian dan melaporkannya.
Zuquilanda meminta otoritas internasional bertindak atas kekerasan ini yang berkaitan dengan perdagangan narkoba.
Villavicencio adalah mantan anggota legislatif dan anggota serikat pekerja di perusahaan minyak negara Petroecuador.
Dia adalah kandidat presiden ke-8 yang terdaftar dalam pemilu pada 20 Agustus.
Fernando Villavicencio juga kritikus mantan Presiden Rafael Correa dan dihukum penjara 18 bulan karena pencemaran nama baik terhadap mantan presiden tersebut.
Journalist Gordon Durnin mengatakan Villavicencio adalah kritikus terkenal terhadap Correa, yang menjabat sebagai presiden dari 2007 hingga 2017.
Sebagai anggota legislatif, Villavicencio dikritik oposisi karena menghalangi pemakzulan Lasso, yang memicu pemilu dini. (*)