SUARA SOREANG - Sarwendah mengaku, bahwa dirinya mengidap skoliosis yang membuat bentuk tulang belakangnya berbentuk S.
Agar bisa memperbaiki postur tulang belakangnya itu, akhirnya Sarwendah harus rutin menggunakan korset.
Sarwendah mengatakan, kebiasaannya duduk terlalu lama saat bekerja atau saat sedang live shopping memengaruhi bentuk tulangnya tersebut.
"Kalau jujur tulang aku tuh skoliosis, jadi skoliosisnya yang (bentuk) S. Jadi, rada miring sebenarnya," kata Sarwendah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Lantas apa itu skoliosis?
Sebagaimana dirangkum dari beragam sumber, pengertian skoliosis adalah kondisi tulang belakang melengkung atau menyamping secara tidak normal.
Walau kasus ini tergolong ringan, tetap harus waspada dan dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis orthopedi atau menjalani x-ray.
Kebanyakan kasus skoliosis terjadi pada anak-anak sebelum masa pubertas. Gangguan ini, dapat menjadi saat mengalami kondisi, seperti cerebral palsy dan distrofi otot.
Pengidap skoliosis dewasa jika tulang belakang melengkung semakin parah akan merasakan kesulitan bernapas, timbul rasa nyeri, serta kelainan bentuk pada tulang belakang.
Baca Juga: Namanya Turut Dilaporkan Imbas Promosi Judi Online, Sule Merasa Ditipu: Duitnya juga Nggak Gede
Jika terus dibiarkan, mungkin saja kelumpuhan dapat terjadi. Sehingga perlu dilakukan penanganan sesegera saat masalahnya masih dalam tahap ringan untuk mencegah berbagai komplikasi.
Faktor Risiko Skoliosis
Pertama faktor usia, meski bisa terjadi pada usia berapa pun, kelainan tulang belakang ini lebih umum terjadi pada anak-anak, remaja, dan lansia.
Kedua faktor jenis kelamin, dibanding anak laki-laki, risiko pengembangan penyakit skoliosis lebih buruk pada anak perempuan.
Ketiga faktor riwayat kesehatan keluarga, meski jarang. Jika ada anggota keluarga dengan riwayat skoliosis dapat meningkatkan risiko.