Masyarakat Ethiopia akhirnya dapat menggunakan sosial media kembali setelah dalam kurun waktu lima bulan dilarang oleh pemerintah setempat.
Larangan itu dimulai pada tanggal 9 Februari 2023 lalu karena terjadi ketegangan antara pemerintah dengan Gereja Ortodoks Ethiopia.
Muncul ancaman perpecahan ketika sejumlah uskup agung dari Oromia mengatakan ingin membentuk sinode baru.
Seperti diketahui, pengikut ajaran Gereja Ortodoks Ethiopia sebesar 43 persen populasi sehingga menjadi kelompok keagamaan terbesar dan berpengaruh di sana.
Buntut dari ketegangan itu, beberapa platform sosial media dibatasi, seperti Facebook, Telegram, Tiktok, dan Youtube.
Sejak Februari 2023 lalu, warga Ethiopia hanya bisa mengakses sosial media menggunakan VPN.
Dikutip dari Africanews, Amnesty International menyayangkan pemblokiran tersebut karena melanggar hak warga negara dalam kebebasan berekspresi serta akses informasi.
Menurut Internet Society, pemblokiran selama 5 bulan terakhir menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, yakni sekitar 42 juta dolar yang berdampak pada aktivitas bisnis masyarakat.
Sebelum kasus ini, Ethiopia juga tercatat juga pernah melakukan pembatasan akses jaringan komunikasi sebelumnya, seperti di tahun 2015 hingga 2017.
Baca Juga: Fenomena Bediding Melanda Banyuwangi, Begini Tips untuk Menjaga Daya Tahan Tubuh
Wilayah konflik seperti Tigray bahkan dicabut jaringan komunikasinya selama dua tahun dan baru dipulihkan pada November 2022 setelah ada perjanjian damai.