Selanjutnya, Dedi Mulyadi menceritakan hidup Ahmad Habibie Bungsu Maulana Akbar yang disebutnya memiliki proses panjang.
"(Maulana Akbar) melewati fase-fase kehidupan yang tidak dilewati oleh orang lain. Pertama nama ya, nama Ahmad itu dari namanya Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan kebetulan Ahmad juga nama dari kakeknya Salim Ahmad Suryana (Alm)," kata Dedi Mulyadi.
Kemudian, nama Habibie diberikannya lantaran dirinya sangat mengagumi sosok BJ. Habibie dirinya selalu teringat pada tahun 1999 dalam sidang istimewa MPR laporan pertanggungjawaban Pak Habibie ditolak.
"Kita ini nangis karena saya melihat dia adalah pemimpin yang ikhlas memimpin negeri ini. Kemudian mampu menyelesaikan problem bangsa dengan tangan dinginnya dengan kecepatannya, dan kepekaannya Indonesia dalam keadaan krisis ekonomi, polisi yang sangat fundamen, dia mampu selamatkan sebuah kapal yang retak," katanya.
Oleh sebab itu, menjadi alasan Kang Dedi Mulyadi meletakkan nama Habibie pada nama putra sulungnya tersebut.
Kemudian ia menjelaskan, soal bungsu yang artinya itu terakhir. "Sebenarnya dia awal dan akhir, kemudian Maula itu kan panggilan-panggilan kasih saja, sebuah panggilan kesejukan gitu kan, ya Maulana panggilan terhadap kekasih," kata kang Dedi.
Selanjutnya, ia menjelaskan nama akhir dari putra sulungnya itu yakni Akbar. Ia mengaku kekagumannya pada seorang tokoh politik.
"Waktu itu saya ada tokoh partai politik yang menyelamatkan partai dari keterpurukan, kemudian menjadi partai dengan paradigma baru, itu saya mengagumi Akbar Tandjung. Jadi itulah namanya yang dilekatkan pada dia (putra sulungnya)," kata dia.(*)